Menkes: Ini Gawan Lahir

Kompas.com - 04/03/2008, 22:43 WIB

JAKARTA, SELASA - Tak sedikit yang menyebut Menteri Kesehatan, Siti Fadillah Supari adalah menteri yang paling ceplas-ceplos di Kabinet Indonesia Bersatu. Saat ditanya wartawan, Menkes bisa menjawab spontan, dan tanpa harus berpikir panjang. Dan Siti Fadillah sendiri mengakui bahwa dirinya memang orangnya spontan kalo bicara. "Wah, itu (ceplas-ceplos) sudah gawan lahir (bawaan dari lahir)," ujar Menkes saat menghadiri pelantikan pejabat Eselon I & II di gedung Departemen Kesehatan, Jakarta, Selasa (4/3).

Karena gaya bicara yang ceplas-ceplos itu, Siti Fadillah acapkali mendapat masalah. Pertengahan Januari lalu, Menkes sempat dilaporkan oleh YLBH Kesehatan Jakarta karena pernyataannya bahwa mantan presiden Soeharto menjalani kehidupan palsu karena waktu itu menggunakan alat bantu dalam perawatannya di RS Pusat Pertamina.

Yang terbaru, buku Menkes berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung yang menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1), membuat gerah Amerika Serikat dan badan kesehatan PBB (WHO).

Namun, Menkes yang tampak anggun dengan balutan baju warna ungu, mengaku tidak menyesal dianugerahi gaya bicara yang ceplos-ceplos. Ia menyebut bahwa itulah dirinya. Meski, ia mengakui bahwa masyarakat Indonesia lebih terbiasa dengan pernyataan yang tertata rapi dan tidak spontanitas. "Rakyat terkadang memang kaget dengan menteri yang lugu, dengan menteri yang mengatakan apa adanya. Tapi sebetulnya ceplas-ceplos saya itu karena saya ingin mengatakan yang benar," lanjut dia.

Diakui Menkes, kebiasaan mengatakan apa adanya itu sudah berlangsung sejak lama. Ia mengaku sulit jika harus mengatakan yang tidak sebenarnya. "Saya itu selalu mengatakan apa adanya. Saya tidak bisa bohong karena kalau saya bohong muka saya itu kelihatan," sambung menteri kelahiran Solo, Jawa Tengah ini. (Persda Network/had)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau