Pemkot Bandung Kalah di PTUN

Kompas.com - 05/03/2008, 19:54 WIB

BANDUNG, RABU - Pengadilan Tata Usaha Negara atau PTUN Bandung menyatakan surat perintah Pemerintah Kota Bandung untuk membongkar lantai lima dan enam Vue Palace Hotel atau VPH harus dicabut. Surat perintah pembongkaran ini dinilai majelis hakim tidak mencerminkan keadilan.

Demikian amar putusan majelis hakim PTUN Bandung yang diketuai Bambang Priyambodo dalam sidang putusan kasus VPH, Rabu (5/3). Bambang menilai, keputusan membongkar lantai lima dan enam VPH itu tidak memperimbangkan kerugian pemilik hotel.

Kasus ini bermula dari terbitnya surat Wali Kota Bandung Nomor 640/2523-disbang tertanggal 10 Oktober 2007 perihal Pembongkaran Lantai Lima dan Enam V PH karena tidak sesuai surat izin mendirikan bangunan (IMB). Ketika pembongkaran berlangsung, Pihak HPV menggugat Pemkot Bandung mengenai surat tersebut ke PTUN. HPV juga meminta agar pembongkaran dihentikan karena proses hukum sedang berjalan. Dalam purtusan sela kasus ini, PTUN mengabulkan permohonan HPV.

Dalam amar putusannya, mejelis hakim mengatakan, pembangunan VPH telah dilengkapi dengan berbagai izin seperti izin peruntukan penggunaan tanah (IPPT), IMB, izin gangguan (HO), dan izin operasional lainnya. Selain itu, pembongkaran lantai lima dan enam hotel di jalan Otto Iskandardinata itu membutuhkan waktu 9 bulan sampai 1,5 tahun.

Bambang menilai surat Nomor 640/2523-disbang perihal Pembongkaran Lantai Lima dan Enam Vue Place Hotel itu tidak mencerminkan keadilan. Sebab, masih banyak bangunan di Kota Bandung yang ketinggiannya melampui VPH. Banguan tersebut antara lain gedung Pasar Baru, Hotel Grand Aquila, Hyatt Regency, dan Gedung Bank Rakyat Indonesia (BRI).

"Oleh karena itu, majelis hakim menolak semua eksepsi Pemkot Bandung sebagai tergugat dan mengabulkan gugatan VPH. Majelis hakim juga menyatakan surat Nomor 640/2523-disbang tertanggal 10 Oktober 2007 perihal Pembongkaran Lantai Lima dan Enam HPV batal, serta meminta pejabat nega ra mencabutnya. Menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara Rp 1.529.000," kata Bambang.

Menanggapi hal ini, kuasa hukum Pemkot Bandung Asep Mulyana menyatakan akan berkonsultasi dengan Bagian Hak Asasi Manusia dan Hukum Kota Bandung. Kami belum bisa menyatakan banding. "Kami harus melapor dulu ke tim, apakah banding atau tidak. Tapi, saya yakin pasti akan banding. Ada waktu 14 hari untuk menyatakan banding," ujarnya.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau