CARACAS, KAMIS - Di saat tank dan pasukannya merangsek ke perbatasan dengan Kolombia, Presiden Venezuela Hugo Chavez justru menyebut dirinya pecinta damai.
Saat ini terjadi krisis keamanan yang dipicu serangan militer Kolombia akhir pekan lalu terhadap kelompok pemberontak kiri yang bersembunyi di wilayah Ekuador. Lalu Venezuela sebagai sekutu kiri Ekuador ikut mengerahkan pasukannya ke perbatasan.
Sebagian besar dari 9.000 personel yang dikerahkan Chavez sudah mencapai perbatasan. Mereka siap mempertahankan kedaultan sakral tanah airnya jika diperlukan untuk melawan militer Kolumbia yang didukung AS. Sedangkan Ekuador mengirimkan 3.200 personel militernya untuk urusan yang sama.
Chavez menyalahkan 'kekaisaran AS dan kaki tangannya, Kolombia, atas krisis itu. Ia menyebut kedua negara itu menebar ancaman pada Ekuador dan Venezuela. "Kami damai. Kami ada di jalan perdamaian," kata pemimpin kiri itu dalam sebuah pidato di televisi, Rabu (5/3) malam atau Kamis (6/3) pagi.
Chavez dan sekutunya, Presiden Ekuador Rafael Correa, mengupayakan dukungan internasional untuk mengutuk tindakan Kolombia yang mengakibatkan tewasnya pemimpin pemberontak dan gerilyawan lainnya.
Chavez dan Correa akhirnya menang di Washington, setelah Rabu (5/3), sidang Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) mengesahkan resolusi yang menyebut serangan itu sebagai pelanggaran kedaulatan. Resolusi itu juga menugaskan Sekjen OAS Jose Miguel Insulza untuk mendatangi kedua negara agar segera mengakhiri ketegangan.
Hanya AS yang menawarkan bantuan tanpa syarat kepada Kolombia. Sedangkan banyak negara lain yang secara terbuka mengungkapkan kekhawatiran atas serangan itu. Ekuador dan Kolombia selama ini dituduh menyediakan tempat persembunyian bagi para pemberontak kiri Kolombia.
Correa menyebut Presiden Kolombia Alvaro Uribe sebagai pembohong yang menginginkan perang. "Kalau serangan itu tidak dikenai sanksi, wilayah ini akan berada dalam bahaya, karena korban selanjutnya Peru, bisa juga Brasil, Venezuel, Bolivia atau negara-negara kita lainnya," kata Correa.
Correa menilai serangan Kolombia itu dilancarkan untuk menyabotase upaya Venezuela dan Ekuador untuk membujuk pemberontak untuk melepaskan sandera.
Sedangkan bagi Uribe, keputusan menyerang kamp pemberontak itu mengisyaratkan rasa frustrasinya terhadap gerilyawan yang berlindung di hutan belantara perbatasan yang amat jarang didatangi pasukan itu. Uribe mengatakan tidak akan memobilisasi atau menggiring negaranya ke dalam perang dengan tetangganya.
Menteri Keamanan Ekuador, Gustavo Larrea mengakui adanya masalah itu. Pemberontak FARC sebelumnya berjanji tidak akan beroperasi di wilayah Ekuador. "Serangan itu membuktikan bahwa mereka tidak menepati janjinya," ujar Larrea kepada Associated Press.(AP)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang