TAK banyak yang mengira bahwa Hadi Marsiadi harus meninggalkan orang-orang dekatnya dalam usia yang masih muda, 22 tahun. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petugas kebersihan (cleaning servis) di PT Gunung Human Pratama (GHP) tersebut menghembuskan nafasnya yang terakhir saat menjalankan tugasnya.
Ia terjatuh bersama gondola yang dinaikinya di Plaza Semanggi, Jakarta, Kamis (6/3) pagi. Hadi tewas bersama satu korban lainnya, yakni seorang teknisi di PT Simpati Gondola, Syamsul Arif.
Hadi adalah putra sulung pasangan almarhum Saman dan Masna. Sejak kematian ayahnya pada 2001 lalu ,ia menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya yang sebelumnya membuka warung nasi uduk harus menutup usahanya karena kekurangan modal. Adik keduanya, Yatna, yang telah tamat SMA masih menganggur. Dua adiknya yang lain, masing-masing Manda dan Lana masih duduk di bangku SMA dan SD.
"Saya belum dapat kerja. Cuma di rumah. Bantu-bantu ibu," kata Yatna yang mendampingi ibunya di kamar pemulasaraan jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Maka, dari gaji Hadilah, Masna dan anak-anaknya yang tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jalan Ceruk Jaya Nomor 6 RT 07/RW 01 Pondok Gede, Bekasi itu menyandarkan hidupnya. "Biasanya tiap bulan ibu dikasih Rp 400.000 dan sebagian (untuk) bayar kontrakan sebesar Rp 300.000," jelas Yatna.
Untuk menyenangkan adik-adiknya, pria yang dikenal suka bercanda oleh teman-teman dekatnya itu sesekali membelikan baju dan juga bakso.
Firasat
Sebagai ibu, Masna mengaku sudah punya firasat kurang baik, tetapi ia pendam sendiri. Sebulan lalu, wanita asal Bekasi ini pernah mimpi bahwa gigi atas Hadi ada yang copot. Karena itu, ia sangat mengkhawatirkan anaknya itu.
"Dalam keyakinannya, kalau mimpi gigi atas yang copot, mungkin ada apa-apanya dengan anak tertuanya itu," kata Masna. Ia pun sudah memperingatkan Hadi agar lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya. "Saya ingatkan dia agar lebih hati-hati kerjanya. Hadi-nya bilang kalau mati di mana aja jadi," cerita Masna.
Masna tak menyangka bahwa pertemuannya dengan sang buah hati pukul 06.00 pagi tadi (6/3) merupakan pertemuan mereka yang terakhir. Ia belum memikirkan apa yang bisa mereka lakukan saat ini. Pasalnya, Hadi adalah tulang punggung satu-satunya keluarga sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang