Tulang Punggung Keluarga Itu Telah Pergi

Kompas.com - 06/03/2008, 18:13 WIB

TAK banyak yang mengira bahwa Hadi Marsiadi harus meninggalkan orang-orang dekatnya dalam usia yang masih muda, 22 tahun. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petugas kebersihan (cleaning servis) di PT Gunung Human Pratama (GHP) tersebut menghembuskan nafasnya yang terakhir saat menjalankan tugasnya.

Ia terjatuh bersama gondola yang dinaikinya di Plaza Semanggi, Jakarta, Kamis (6/3) pagi. Hadi tewas bersama satu korban lainnya, yakni seorang teknisi di PT Simpati Gondola, Syamsul Arif.

Hadi adalah putra sulung pasangan almarhum Saman dan Masna. Sejak kematian ayahnya pada 2001 lalu ,ia menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya yang sebelumnya membuka warung nasi uduk harus menutup usahanya karena kekurangan modal. Adik keduanya, Yatna, yang telah tamat SMA masih menganggur. Dua adiknya yang lain, masing-masing Manda dan Lana masih duduk di bangku SMA dan SD.

"Saya belum dapat kerja. Cuma di rumah. Bantu-bantu ibu," kata Yatna yang mendampingi ibunya di kamar pemulasaraan jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Maka, dari gaji Hadilah, Masna dan anak-anaknya yang tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jalan Ceruk Jaya Nomor 6 RT 07/RW 01 Pondok Gede, Bekasi itu menyandarkan hidupnya. "Biasanya tiap bulan ibu dikasih Rp 400.000 dan sebagian (untuk) bayar kontrakan sebesar Rp 300.000," jelas Yatna.

Untuk menyenangkan adik-adiknya, pria yang dikenal suka bercanda oleh teman-teman dekatnya itu sesekali membelikan baju dan juga bakso.

Firasat

Sebagai ibu, Masna mengaku sudah punya firasat kurang baik, tetapi ia pendam sendiri. Sebulan lalu, wanita asal Bekasi ini pernah mimpi bahwa gigi atas Hadi ada yang copot. Karena itu, ia sangat mengkhawatirkan anaknya itu. 

"Dalam keyakinannya, kalau mimpi gigi atas yang copot, mungkin ada apa-apanya dengan anak tertuanya itu," kata Masna. Ia pun sudah memperingatkan Hadi agar lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya. "Saya ingatkan dia agar lebih hati-hati kerjanya. Hadi-nya bilang kalau mati di mana aja jadi," cerita Masna.

Masna tak menyangka bahwa pertemuannya dengan sang buah hati pukul 06.00 pagi tadi (6/3) merupakan pertemuan mereka yang terakhir. Ia belum memikirkan apa yang bisa mereka lakukan saat ini. Pasalnya, Hadi adalah tulang punggung satu-satunya keluarga sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau