BANYUASIN, JUMAT--Bupati Banyuasin Ir H Amiruddin Inoed mengatakan, tim gabungan pemantau buaya di Sungai Batanghari sudah terbentuk. "Tim itu terdiri dari petugas kehutanan dan Kesbang Pol Banyuasin. Mereka sudah berkoordinasi dengan saya," katanya.
Saat ini pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan Dandim Musi Banyuasin dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang berada di Palembang. "Kita tengah melakukan koordinasi dengan KSDA Palembang, apakah buaya itu cukup dijinakkan dan ditangkap dengan mendatangkan pawang. Sebab, buaya termasuk binatang yang dilindungi. Atau kalau perlu ditembak dengan mendatangkan petugas Kodim Muba," jelasnya.
Kata Amiruddin, ada kemungkinan buaya yang mengamuk di Sungai Batanghari, bukan buaya asli wilayah itu, melainkan buaya yang berasal dari Sungai Sembilang yang memang dikenal sebagai habitat buaya. "Berdasarkan info yang saya dengar, buaya itu baru keluar kalau air pasang," katanya. Pada kesempatan itu juga, Amiruddin kembali memeringatkan warga Mukut dan warga yang tinggal di wilayah aliran Sungai Batanghari selalu hati-hati dan waspada.
Trisnawati (25) korban gigitan buaya yang saat ini dirawat di RSUD Banyuasin sudah berangsur-angsur membaik. Trisna yang dioperasi kakinya dan mendapat 50 jahitan, kini sudah bisa makan sendiri. Wanita itu mengalami luka serius di kedua kakinya. Sejumlah warga yang tadinya berniat pergi ke sawah lantaran saat ini tengah musim tanam, terpaksa menghentikan niatnya. Mereka takut bernasib sama dengan Trisnawati. Untuk mencapai sawah, warga harus melintasi Sungai Batanghari. Bahkan, ada warga yang memilih mengungsi meninggalkan Desa Mukut guna mencari tempat yang lebih aman. (Sripo/UDN)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang