TRENGGALEK, SABTU- Kasus gizi buruk yang menimpa balita di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur terus bertambah dalam sebulan terakhir. Seorang balita penderita gizi buruk bernama Desi Fitriani, Sabtu, harus dilarikan ke RSUD dr Soedono, Trenggalek, setelah kesehatan fisiknya terus mengalami penurunan.
Menurut keterangan penanggungjawab poliklinik anak RSUD dr Soedono, dr Soedjiono, Sp.A, bayi perempuan berusia 2,5 tahun itu menderita penyakit TBC yang menyertai gizi buruk. "Kalau seorang penderita gizi buruk mengalami penyakit ikutan, seperti TBC, maka perawatannya harus ditingkatkan," katanya.
Selain memberikan makanan berbentuk entrasol, pihak rumah sakit juga terus memberikan pengobatan secara intensif terhadap penyakit penyerta gizi buruk. Balita penderita gizi buruk memang rentan terserang berbagai jenis penyakit. Bahkan di Kabupaten Kediri, seorang bocah berusia empat tahun yang menderita gizi buruk tewas dengan penyakit penyerta, TBC.
RSUD dr Soedjiono tak ingin kasus yang terjadi di Kabupaten Kediri pada 31 Desember 2007 lalu terjadi di Kabupaten Trenggalek. Sampai saat ini, bayi hasil pernikahan Jumiran dan Nur Fatimah, warga Desa Kerjo, Kecamatan Karangan itu ditempatkan di ruang isolasi RSUD dr Soedono, Trenggalek.
Hampir seluruh kulit yang menutupi tubuh Desi Fitriani tampak keriput dengan berat badan yang hanya tujuh kilogram, padahal berat badan bayi normal seusianya setidaknya 13 kilogram.
Nur Fatimah mengaku, selama ini bayinya itu kurang mendapatkan asupan gizi. "Saya tidak pernah memberinya susu," katanya menuturkan.
Keluarga ini memang tergolong rumah tangga miskin. Sehari-hari Jumiran bekerja sebagai tukang becak dengan penghasilan tak menentu, antara Rp 3 .000 hingga 10.000 per hari.
Desi Fitriani merupakan bayi keempat di Kabupaten Trenggalek yang dinyatakan terkena gizi buruk selama sebulan terakhir. Sebelumnya ada tiga balita, yakni Tasya, Angga, dan Ayesa yang menjalani perawatan di RSUD dr Soedono karena menderita penyakit lain yang menyertai gizi buruk.
Namun pada Minggu (2/2) lalu, nyawa Tasya tak tertolong lagi setelah empat hari menjalani perawatan di RSUD dr Soedono, Trenggalek. Ia mengalami kelainan pada struktur pernafasan yang menyertai gizi buruk. (ant)