Kasus Gizi Buruk di Trenggalek Bertambah

Kompas.com - 08/03/2008, 19:57 WIB

TRENGGALEK, SABTU- Kasus gizi buruk yang menimpa balita di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur terus bertambah dalam sebulan terakhir. Seorang balita penderita gizi buruk bernama Desi Fitriani, Sabtu, harus dilarikan ke RSUD dr Soedono, Trenggalek, setelah kesehatan fisiknya terus mengalami penurunan.
     
Menurut keterangan penanggungjawab poliklinik anak RSUD dr Soedono, dr Soedjiono, Sp.A, bayi perempuan berusia 2,5 tahun itu menderita penyakit TBC yang menyertai gizi buruk. "Kalau seorang penderita gizi buruk mengalami penyakit ikutan, seperti TBC, maka perawatannya harus ditingkatkan," katanya.
     
Selain memberikan makanan berbentuk entrasol, pihak rumah sakit juga terus memberikan pengobatan secara intensif terhadap penyakit penyerta gizi buruk. Balita penderita gizi buruk memang rentan terserang berbagai jenis penyakit. Bahkan di Kabupaten Kediri, seorang bocah berusia empat tahun yang menderita gizi buruk tewas dengan penyakit penyerta, TBC.
     
RSUD dr Soedjiono tak ingin kasus yang terjadi di Kabupaten Kediri pada 31 Desember 2007 lalu terjadi di Kabupaten Trenggalek. Sampai saat ini, bayi hasil pernikahan Jumiran dan Nur Fatimah, warga Desa Kerjo, Kecamatan Karangan itu ditempatkan di ruang isolasi RSUD dr Soedono, Trenggalek.
     
Hampir seluruh kulit yang menutupi tubuh Desi Fitriani tampak keriput dengan berat badan yang hanya tujuh kilogram, padahal berat badan bayi normal seusianya setidaknya 13 kilogram.
     
Nur Fatimah mengaku, selama ini bayinya itu kurang mendapatkan asupan gizi. "Saya tidak pernah memberinya susu," katanya menuturkan.
     
Keluarga ini memang tergolong rumah tangga miskin. Sehari-hari Jumiran bekerja sebagai tukang becak dengan penghasilan tak menentu, antara Rp 3 .000 hingga 10.000 per hari.
     
Desi Fitriani merupakan bayi keempat di Kabupaten Trenggalek yang dinyatakan terkena gizi buruk selama sebulan terakhir. Sebelumnya ada tiga balita, yakni Tasya, Angga, dan Ayesa yang menjalani perawatan di RSUD dr Soedono karena menderita penyakit lain yang menyertai gizi buruk.
     
Namun pada Minggu (2/2) lalu, nyawa Tasya tak tertolong lagi setelah empat hari menjalani perawatan di RSUD dr Soedono, Trenggalek. Ia mengalami kelainan pada struktur pernafasan yang menyertai gizi buruk. (ant)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau