Brainwave, Cara Gampang Langsingkan Tubuh

Kompas.com - 10/03/2008, 16:57 WIB

BANYAK orang merasa sulit menurunkan berat badan. Ini lantaran program penurunan berat tidak tertanam di pikiran bawah sadar. Sulit mengontrol nafsu makan dan menyeimbangkan sistem metabolisme tubuh. Teknologi brainwave dalam hal ini bisa membantu mengurangi kelebihan gajih di tubuh Anda.

Selain tak enak dipandang, kegemukan atau obesitas dapat menyebabkan berbagai macam gangguan kesehatan. Orang kerapkali mengeluh sulit sekali menurunkan berat, sementara menaikkan berat kok bisa begitu cepat. Padahal, banyak cara yang bisa dilakukan agar langsing meski tidak semuanya bisa diterapkan dengan aman.


Citra diri yang gemuk biasanya akan tertancap dalam pada diri orang yang mengalami kegemukan. Akibatnya, orang menjadi makin sulit untuk melepaskan dari keadaan ini. “Kadang sebulan turun dua kilogram, tetapi tiga bulan berikutnya naik lagi tiga kg. Saya sulit sekali mempertahankan gaya hidup sehat sesuai anjuran dokter, seperti mengonsumsi makanan gizi seimbang, rutin berolahraga, ataupun menjalani detoksifikasi secara periodik,” ujar Wahyuni (33), karyawati USAID, Jakarta, ketika dimintai pendapat soal program pelangsingannya.

Sebenarnya, kata Yudi Sujana, dari Sound Technology, Bandung, semua program diet yang dilakukan secara konsisten bisa menurunkan berat badan secara ideal. Persoalannya, orang obesitas tak bisa konsisten melakukan program dietnya.

Sebetulnya, dari informasi yang bisa mudah didapat mereka tahu persis jenis makanan apa yang sebaiknya dikonsumsi dan tidak. Mereka juga tahu porsi olahraga yang baik untuk menunjang penurunan berat badan. Bila boleh disamakan, sama halnya dengan perokok, yang sudah tahu bahayanya, tetapi tak mau berhenti merokok.

Lalu, apa yang menghambatnya? Menurut praktisi kesehatan yang menggunakan media audio ini, hal yang menghambat adalah hati orang itu sendiri. “Apa yang ada di hati Anda lebih menentukan perilaku Anda dibanding dengan apa yang ada di kepala Anda,” ujar Yudi.

Ketika kepala atau pikiran ingin langsing tetapi hati atau perasaan suka mengonsumsi makanan berlemak serta malas berolahraga, perasaan Anda yang menang. Karena itu, Anda akan terus mengonsumsi makanan berlemak dan tak mau berolahraga.

Menurut Yudi, hambatan mental itu berupa resistensi, perasaan negatif, atau rasa tidak suka terhadap olahraga dan diet. Akibatnya, Anda susah diet dan berolahraga.Bagaimana memperbaikinya?

“Caranya dengan menyelaraskan antara pikiran dan hati atau perasaan Anda. Ketika pikiran dan perasaan selaras atau mempunyai tujuan yang sama, Anda akan diet dan berolahraga secara konsisten,” katanya.

Gelombang Alfa
Para ahli telah mengetahui otak kita memiliki empat kategori gelombang otak atau yang dikenal dengan brainwave. Saat kita berpikir keras, kondisi otak dinamakan gelombang beta. Dalam kondisi ini hati atau perasaan tak banyak berperan. Kedua, gelombang alfa, yaitu ketika otak dan hati berkolaborasi atau bekerja sama.

Ketiga, gelombang theta, yaitu ketika tak berpikir, tetapi masih tetap sadar. Kondisi ini biasanya terjadi saat melakukan meditasi. Keempat, gelombang delta, yaitu kondisi saat tidur.

Lebih jauh, kata Yudi, program diet untuk melangsingkan badan akan efektif tercapai ketika tertanam di dalam hati atau ketika otak berada di gelombang alfa. Ada banyak cara masuk ke dalam kondisi alfa. Sebut saja lewat indra penciuman, salah satu caranya dengan terapi aroma. Atau dengan indra perasa, dipijat di daerah otak. “Cara paling mudah melalui indra pendengaran. Lewat teknologi audio brainwave,” ujar Yudi.

“Selama puluhan tahun teknologi ini sudah dikembangkan di negara-negara maju. Di Indonesia, saya bersama Sound Technologies, salah satu yang ikut mengembangkan teknologi ini. Melalui indra pendengaran, otak dirangsang dengan suara berfrekuensi rendah, sehingga otomatis otak akan masuk ke gelombang Alfa. Saat itulah niat langsing dengan program diet ditanamkan,” ungkapnya.

Program yang ditanamkan berupa afirmasi, guided visualization, dan tuntunan untuk melepaskan semua hambatan mental atau perasaan negatif terhadap program langsing. Setelah program itu tertanam di hati atau pikiran bawah sadar, mental pasien sudah menjadi orang langsing. Begitu pula pikiran dan perasaannya sudah menjadi sosok langsing.

Mental langsing terbentuk ketika perhatian, perasaan, dan pikiran selalu terarah ke langsing. Hal inilah yang menyebabkan perubahan gaya hidup, nafsu makan berlebihan menjadi berkurang, serta memiliki semangat berolahraga. Saat mental sudah langsing, program diet apa pun bisa dilakukan jauh lebih mudah sebab motivasi sudah muncul dari dalam diri secara alamiah.

Dilarang Mengemudi
Yudi membantu program pelangsingan melalui sebuah CD (compact disk) yang diberi nama Lose Weight Quickly. CD inilah yang menanamkan mental langsing saat otak dalam kondisi Alfa.

CD tersebut menurutnya memberikan afirmasi badan langsing yang terdengar maupun tidak oleh telinga, tetapi dapat terdengar jelas oleh pikiran bawah sadar karena afirmasi dimasukkan saat otak berada dalam kondisi alfa.

“Gelombang alfa merangsang keluarnya hormon yang cocok untuk menyeimbangkan sistem di tubuh, sehingga mudah membakar kelebihan lemak di badan secara alamiah, mengontrol nafsu makan, semangat berolahraga, dan secara otomatis bekerja mencapai berat badan yang ideal,” ujar Yudi.

Untuk mendapatkan hasil yang sempurna, ia menyarankan mendengarkan CD dua kali sehari sambil menutup mata, dengan atau tanpa headphone. Bisa juga memutar CD sebagai background aktivitas. Yang penting tidak sambil mengemudi.

Dikatakan Yudi, kondisi alfa juga bisa bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh. Saat di alfa, otak mengeluarkan hormon-hormon seperti DHEA, endorfin, dan serotonin. Otak akan mengeluarkannya dalam takaran yang pas untuk tubuh. Semuanya bagus untuk sistem kekebalan tubuh.
“Di negara maju, hormon-hormon itu diperdagangkan dengan harga yang sangat mahal, meski takaran yang pas untuk tubuh belum dapat dipastikan,” tuturnya.  

Sound Technology
Jl. Cilandak II No. 34
Jakarta Selatan
TELP. 7812491, 93103202

Source: Gaya Hidup Sehat

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau