Oleh DAHONO FITRIANTO
Jika jagat Middle Earth dalam legenda The Lord of The Rings memiliki sosok Gandalf, dunia musik R&B punya Babyface. Mereka membawa ”keajaiban” bagi dunianya masing-masing.
Bahkan, bagi ”rakyat” R&B, Babyface—julukan akrab untuk Kenneth Edmonds—adalah keajaiban itu sendiri. Terjun dalam industri musik lebih dari 30 tahun, namanya menjadi jaminan baik sebagai penyanyi, musisi, penulis lagu, hingga produser rekaman. Pendek kata, hampir semua karya musik R&B yang mendapat sentuhannya melejit, sukses.
Pada sekitar akhir era 1980-an saat beberapa nama baru di dunia musik pop Amerika Serikat (AS) memperkenalkan istilah R&B dengan lagu-lagu yang bercirikan ketukan perkusi khas musik Afrika-Amerika, dipadukan dengan kemanisan melodi pop, muncul nama-nama seperti Bobby Brown, Boyz II Men, Toni Braxton, Johnny Gill, TLC, dan Az Yet.
Adalah tangan dingin Babyface yang berada di belakang sukses nama-nama itu. Bagaikan sulap, nama-nama itu ”tiba-tiba” menjadi terkenal di dunia musik dalam waktu relatif singkat.
Saat tampil pada Dji Sam Soe Super Premium Jakarta International Java Jazz Festival 2008, Minggu (9/3) malam, sebagian penonton baru pertama kali tahu bahwa lagu-lagu populer yang dibawakan nama-nama itu adalah karya Edmonds. Di tengah penampilannya selama hampir dua jam penuh, musisi kelahiran Indianapolis, AS, ini memainkan medley lagu-lagu ciptaannya yang populer lewat artis-artis tersebut.
Mengalirlah Don’t Be Cruel dan Rock Witcha-nya Bobby Brown, Can’t We Talk-nya Tevin Campbell, My My My yang pernah dibawakan Johnny Gill, I’ll Make Love to You dan End of The Road-nya Boyz II Men, Superwoman dari Karyn White, dan tiga lagu yang melejitkan nama Toni Braxton ke deretan bintang dunia: Breathe Again, Another Sad Love Song, dan You Mean The World to Me.
Sudah barang tentu 99 persen hadirin malam itu mengenal lagu-lagu tersebut sehingga hampir sepanjang pertunjukan diisi dengan ”koor” penonton menyanyi bersama. ”Lho, yang ini ciptaannya Babyface juga, ya? Baru tahu...,” ujar seorang penonton sambil bergoyang mengikuti irama You Mean The World to Me.
”Entertainer”
Sebagai penyanyi dan musisi, kemampuannya tak bisa dianggap enteng. Edmonds memiliki suara khas, yang bahkan bisa dikenali dengan mudah saat ia mengisi suara latar sekalipun. Di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, ia mengawali penampilan dengan Knockin’ on Heaven’s Door-nya Bob Dylan sambil memainkan gitar akustik secara kidal.
”Musik-musik Bob Dylan dan James Taylor adalah yang membuat saya pertama kali jatuh cinta kepada musik,” ujar Edmonds sebelum pentas.
Yang mengejutkan, penampilan Edmonds di atas panggung sangat berbeda dengan gayanya di luar panggung. Di luar pentas, Edmonds tampil cool, mencitrakan seorang yang pendiam dan pemalu.
Namun, di panggung ia membuktikan dirinya sebagai entertainer sejati. Ia bisa menjadi sangat ”cerewet” menceritakan perjalanan kariernya sambil melontarkan lelucon-lelucon segar, bahkan beraksi ”liar” saat menarik seorang penonton perempuan ke atas panggung untuk dipeluk dan dirayu dengan lagu End of The Road. Sebagian penonton pun histeris.
Cinta pertama
Kenneth Brian Edmonds lahir 10 April 1958, sebagai anak kelima dari enam bersaudara pasangan Barbara dan Melvin Edmonds. Perkenalannya dengan musik diawali saat ia masih sangat muda. Di panggung, ia bahkan mengaku menulis lagu pertama ketika kelas 6 SD.
”Saat saya di kelas 7 atau 8 (setara kelas 1 atau 2 SMP), saya biasa pergi ke gereja tiap hari Minggu dan mendengarkan musik di sana,” kenangnya.
”Tetapi, ketika pendeta mulai khotbah, saya suka kembali ke mobil untuk dengerin radio. Biasanya saya mendengarkan radio R&B yang juga memutar lagu-lagu gereja. Lalu, saya pindah ke stasiun radio pop. Di sinilah saya kenal James Taylor, Bread, Bob Dylan, dan Eric Clapton. Saya kemudian belajar main gitar, memainkan lagu akustik. Musik itu seolah berbicara kepadaku, aku jatuh cinta,” papar Edmonds di laman pribadinya.
Itu sebabnya, lagu-lagu seperti Knockin’ on Heaven’s Door (Bob Dylan), Shower The People (James Taylor), Diary (Bread), dan Wonderful Tonight (Eric Clapton) memiliki tempat tersendiri di hati Edmonds. Lagu-lagu itu pula yang ia pilih untuk dinyanyikan dengan versinya dalam album solo terbaru dia, Playlist (2007).
Ia pun mendengarkan karya musisi jazz, seperti Miles Davis dan Stanley Clarke. Bahkan, setelah lulus SMA, ia mencoba bermain fusion jazz. ”Memainkan fusion menjadi terlalu sulit bagi saya karena musik itu mengedepankan skill, bukan melodi. Pada akhirnya saya tak bisa membuat lagu yang bisa menyentuh hati orang,” ungkap ayah dari Brandon dan Dylan Michael Edmonds dari pernikahannya dengan Tracey Edmonds ini.
Saksi sukses
Dekade 1970-an Edmonds sempat bermain musik dengan tokoh musik funk, Bootsy Collins, yang lalu menjulukinya dengan sebutan Babyface. Dia juga sempat bergabung dengan grup Manchild dan kelompok R&B The Deele. Di grup terakhir ini Edmonds berkenalan dengan Antonio ”LA” Reid, yang belakangan menjadi mitranya dalam bermusik dan mendirikan perusahaan rekaman LaFace Records tahun 1989.
Tahun 1986 Edmonds merilis album solo pertama, Lovers. Setelah itu, sisa dekade 1980-an menjadi saksi Babyface mengantar kesuksesan nama-nama yang telah disebutkan sebelumnya.
Ia juga bekerja sama dan meraih sukses dengan artis-artis yang lebih dulu mapan. Ia menjadi produser lagu I’m Your Baby Tonight yang dinyanyikan Whitney Houston dan menempati puncak tangga lagu AS pada 1990. Lagu Take A Bow yang ditulis, diproduksi, dan dinyanyikan bersama Madonna menduduki nomor satu tangga lagu AS selama tujuh pekan berturut-turut pada 1995.
Kolaborasinya dengan Eric Clapton dalam soundtrack film Phenomenon, Change The World membuahkan Grammy Award untuk Rekaman Tahun Ini pada 1996. Hingga kini, Babyface telah mengoleksi 10 Grammy Awards, termasuk untuk kategori Produser Tahun Ini tiga kali berturut-turut pada 1995-1997.
Artis yang pernah merasakan ”sentuhan”-nya adalah nama-nama populer dari berbagai latar belakang musik, mulai dari Diana Ross, Michael Jackson, Aretha Franklin, Paula Abdul, Celine Dion, Mary J Blige, Janet Jackson, Mariah Carey, Vanessa Williams, hingga Sheena Easton, Pink, dan Phil Collins.
Oktober 2005 Edmonds dan Tracey Edmonds bercerai setelah 13 tahun menikah. Pengalaman itu dituangkannya dalam lagu Not Going Nowhere pada album Playlist. ”Isinya adalah bagian dari obrolan saya dengan Tracey dan anak-anak. Kami meyakinkah mereka, kami masih bersahabat baik dan tak ada yang akan berubah. Kami ingin anak-anak merasa aman,” ujar Edmonds.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang