Pemerintah Perlu Waspadai Penyelundupan Beras Keluar Negeri

Kompas.com - 11/03/2008, 18:05 WIB

BANYUMAS, SELASA - Pemerintah harus aktif mengawasi perdagangan beras di wilayah Indonesia, jangan sampai ada yang diselundupkan keluar negeri. Hal itu mengingat harga beras di pasar global ikut terkena dampak psikologis kenaikan harga pangan dunia.

Kepala Badan Urusan Logistik Sub Divisi Regional IV Banyumas, Imam Syafei, Selasa (11/3), mengatakan, untuk penyerapan gabah pada tahun ini tetap sama dengan tahun lalu, pihaknya membuka semua pintu penyerapan gabah dari petani. Namun masalahnya, dirinya pun tak dapat menjamin bisa memperoleh gabah berkualitas baik dalam jumlah banyak, karena ada kecenderungan komoditi beras akan diselundupkan keluar negeri. Utamanya sejak harga beras di pasar global naik dari  320 dollar AS per ton menjadi US 500 dollar AS per ton.

"Perdagangan beras di Banyumas saja sulit dikontrol, banyak yang dijual ke Jawa Barat dan Jakarta. Apalagi dengan kondisi harga beras di dunia yang sedang tinggi, tentu menjadi daya tarik tersendiri untuk menjual beras keluar negeri," ucapnya.

Secara terpisah Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Banyumas, Widarso, pun mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, saat ini yang terpenting untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat, diperlukan adanya pengamanan agar komoditi beras tak sampai diperdagangkan keluar negeri. "Indikasi penyelundupan beras keluar negeri itu sebetulnya sudah ada, tapi siapa yang bisa menangkap. Inilah yang harus menjadi perhatian utama," katanya.

Terutama untuk panen padi di wilayah Banyumas, lanjutnya, juga diperlukan pengawasan ketat karena pada tahun ini hasil panen padi di wilayah Banyumas jauh lebih baik dibandingkan kabupaten lainnya di Jawa Tengah bagian utara yang dilanda bencana banjir. Diperkirakan hasil panen di Banyumas dapat mencapai 300.000 ton.

"Untuk saat ini, kualitas beras Banyumas jauh lebih baik dibandingkan beras dari wilayah pantai utara yang umumnya terendam banjir. Ini kan juga menjadi permasalahan di Banyumas. Kami khawatir, beras di wilayah kami malah terserap ke kabupaten lain maupun keluar negeri," tuturnya.

Dengan pertimbangan itu pula, Imam pun mengatakan, kini pihaknya memiliki dua alternatif prognosa penyerapan gabah dari petani. Prognosa pertama, pihaknya menargetkan penyerapan gabah hingga 110.000 ton dari empat kabupaten di wilayah eks Karesidenan Banyumas, dengan catatan produksi melimpah dan kualitas gabah cukup baik. Prognosa kedua, target penye rapan gabah hanya berkisar 83.000 ton, dan ini dijadikan sebagai alternatif.

"Alternatif itu kami terapkan selama jumlah produksi gabah kurang dan kualitasnya tak memenuhi syarat. La wong pada tahun 2007 lalu saja, penyerapan gabah yang kami lakukan hanya bisa mencapai sekitar 70.000 ton, dan itu pun semua pintu sudah dibuka," tuturnya. (MDN)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau