Emperor's Club VIP, Bisnis Gelap Beroperasi Terang-terangan

Kompas.com - 12/03/2008, 11:37 WIB

EMPEROR,S Club VIP diyakini tim biro penyelidik federal AS, FBI, merupakan jaringan prostitusi internasional. Bisnis syahwat kelas premium ini menyediakan 'teman perjalanan' ke mana saja dan untuk klien di mana saja, mulai New York, Los Angeles, London sampai Paris.

Namun sebagai 'perusahaan' di bisnis gelap, Emperor's sebenarnya beroperasi secara terang-terangan. Buktinya, mereka punya website yang bisa ditemukan lewat mesin pencari apa pun, asal ketemu kata kuncinya.

Situs www.emperorsclubvip.com (sekarang sudah dimatikan) bisa ditemukan dengan kata kunci 'call girls' (gadis panggilan). Temuan lain penyidik yang dibeber dalam dokumen pengadilan, Emperors menggunakan email gratis Yahoo!, yaitu  emperorsclubvipny@yahoo.com. Alamat ini antara lain digunakan oleh gadis-gadis melamar kerja di Emperors.

Salah satu isi resume agen FBI Kenneth Hosey menyebutkan bahwa empat orang yang sekarang ditahan - Temeka Rachelle Lewis, Mark Brener, Cecil Suwal and Tanya Hollander - dan beberapa orang lain, baik yang identitasnya sudah diketahui atau belum, telah menggunakan ponsel dan email untuk membentuk, mengelola dan mempromosikan prostitusi yang melanggar undang-undang.

FBI mengungkap salah satu lamaran kerja dari seorang gadis yang menggunakan nama Sophia. Nama itu muncul dari pesan suara yang ditinggalkan Lewis di ponsel Sophia yang berhasil disadap. Penyidik menduga Sophia adalah salah satu cewek Emperors yang tinggal di London Inggris.

Kata Hosey, dalam pesan itu Lewis minta Sophia untuk secepat mungkin mengirim email lewat alamat emperorsclubvip@yahoo.com. Setelah mengulang alamat email itu, Lewis mengatakan, "Mungkin lebih mudah kalau kita bicara lewat telepon. Tapi kalau kamu tidak bisa menelepon, tolong upayakan mengirim email, biar saya bisa tahu apakah kamu bisa (kencan) malam ini."

Mengakses rekaman email bukan perkara sulit bagi FBI. Apalagi di dalam komputer personal para tersangka diyakini tersimpan segudang bukti yang menggiurkan bagi penyidik.

Hosey lalu mengungkapkan pada 25 Januari 2008, ia mendapat rekaman login ke alamat email Emperors itu. Menurutnya catatan dengan rentang waktu mulai 10 Desember 2007 hingga 24 Januari itu mengungkap bahwa alamat itu telah diakses 100 kali dari sebuah komputer dengan alamat IP (internet protokol) tertentu.

Begitu mendapat surat perintah penggeledahan dari Hakim Tinggi Distrik New York Selatan, penyidik pun 'membongkar' alamat email itu yang kemudian diketahui digunakan oleh Brener dan Suwal untuk merekrut anak buah. "Hasilnya, FBI mengumpulkan 6.000 email terkait operasi Emperors," kata Hosey.

Penyelidikan FBI itu membuktikan bahwa bisnis segelap apa pun selama melibatkan internet sebagai jalur operasi bisa dibongkar menjadi seterang siang hari. Apalagi bagi FBI yang mengantongi surat sah untuk menggeledah.

Bisa jadi kasus Eliot Spitzer ini akan menghiasi halaman muka berbagai surat kabar dan menjadi liputan khusus televisi selama beberapa pekan mendatang. Pada saat itu, bisa dipastikan orang akan terus mencari segala hal terkait kasus ini lewat mesin pencari di internet.

Karena Spitzer dikenal sebagai Client 9, maka orang mungkin akan mencari siapa Client 1 sampai Clien 8. Kata-kata itu mungkin banyak digunakan di mesin pencari Google, Yahoo! atau MSN. Bisa juga Mayflower hotel yang menjadi tempat kencan Spitzer, atau mungkin saja Bill Clinton atau Monica Lewinsky yang pernah terlibat dalam urusan semacam ini.

Tetapi kata apa yang paling banyak? New York Times memprediksi nama-nama alias cewek Emperors seperti Felana, Samantha, Sophie, Raquel, Madison, Trina dan banyak lagi lainnya. Lebih seksi di telinga kali..... (berbagai sumber)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau