Calon Gubernur Bank Sentral Jepang Ditolak Oposisi

Kompas.com - 12/03/2008, 11:55 WIB

JAKARTA,RABU -  Para anggota legislatif dari kalangan oposisi memveto calon gubernur bank sentral Japang pilihan pemerintah Rabu (12/3), menjadikan Bank of Japan berada di tengah krisis kredit global tanpa penerus Gubernur Toshihiko Fukui seminggu sebelum ia mundur.

Penolakan terhadap wakil gubernur saat ini Toshiro Muto, mengancam kevakuman kebijakan moneter di Jepang saat bank-bank sentral bekerja sama untuk mengatasi krisis, termasuk tindakan bersama Selasa untuk menginjeksikan ratusan miliar dolar ke pasar perkreditan.

Seperti dikutip Reuters, dalam voting di majelis tinggi, yang dikuasai oposis, juga menolak salah satu calon untuk wakil gubernur namun menyetujui calon lain, pejabat bank sentral Masaaki Shirakawa yang telah pensiun.
    
Langkah pemerintah selanjutnya tidak jelas, meskipun media Jepang telah mengatakan Shirakawa kemungkinan akan ditunjuk sebagai ketua BOJ sementara untuk memberi kaum oposisi, yang dipimpin Partai Demokrat, dan koalisi yang berkuasa untuk menemukan solusi jangka panjang.

"Ini merupakan hal yang memalukan bagi pemerintah dan Partai Demokrat. Baik LDP dan DPJ harus saling membuat konsesi. DPJ harus mengusulkan ide alternatif, namun mereka tidak melakukannya," kata ekonom Morgan Stanley Takehiro Sato, menambahkan kedua belah pihak dalam perdebatan itu telah membawa permasalahan itu terlalu jauh mendekati tanggal pensiun Fukui 19 Maret ini.
    
Ada spekulasi bahwa pemerintah dan oposisi mungkin mencapai kesepakatan dimana Muto akan dicalonkan kembali dan partai oposisi akan abstain dalam voting sebagai ganti untuk konsesi-konsesi mengenai kebijakan lain, seperti apakah akan memangkas pajak bahan bakar.

Pertentangan itu menambah kelumpuhan politik di Jepang yang telah membuat popularitas Perdana Menteri Yasuo Fukuda merosot. "Kebingungan memutuskan orang tertinggi Bank of Japan, yang mengendalikan kocek Jepang, menunjukkan Jepang dalam krisis," kata Masufumi Akutagawa, 29, yang bekerja di bisnis TI.
    
"Kedua belah pihak bersalah. Fukuda tidak memiliki leadership sama sekali, dan (pemimpin Partai Demokrat Ichiro) Ozawa juga bertanggungjawab."

Sementara di Indonesia, nanti malam, pukul 19.00 WIB, Komisi XI DPR akan menentukan pilihannya, terhadap dua calon gubernur Bank Indonesia Agus Martowarodjo dan Raden Pardede. Sebelumnya DPR mengancam menolak calon yang telah diajukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu. Agus dan Raden telah menjalani fit and proper test Senin dan Selasa kemarin.

Pertumbuhan nampak merosot

Penolakan Muto muncul di tengah kekhawatiran resesi dan perlambatan AS, kemungkinan juga resesi, tahun ini di Jepang. Pertumbuhan kuartal keempat Jepang dikonfirmasi oleh pemerintah pada 0,9 persen Rabu, membingungkan harapan pasar akan suatu revisi penurunan tajam.

Namun Taro Saito, ekonom senior Nissay Research mengatakan ekonomi kemungkinan akan mandeg, atau bahkan berkontraksi, pada kuartal ini. "BOJ kemungkinan akan mempertahankan suku bunga sekarang tetap untuk sementara, namun jika bank sentral hendak menggerakkannya kemungkinannya penurunan suku bunga dan bukan kenaikan suku bunga," ia mengatakan. "Bank sentral mungkin akan dipaksa untuk menurunkan suku bunga untuk bekerjasama dengan pelonggaran moneter global."

Sementara penunjukkan Shirakawa sebagai penjabat sementara gubernur akan memastikan BOJ mempunyai seorang pemimpin, para ekonom mengatakan gubernur bank sentral temporer bukan solusi yang baik ketika dunia menghadapi kemungkinan resesi di Amerika Serikat.

Bank-bank sentral utama, termasuk The Fed, bahu-membahu Selasa untuk menyalurkan ratusan miliar dolar dana segar bagi pasar yang kekurangan dana kredit. BOJ lantang mendukung langkah tersebut, namun tidak mengambil langkah-langkah khusus dari dirinya sendiri untuk meningkatkan likuiditas.

Partai oposisi secara konsisten menentang Muto karena kedekatannya dengan pemerintah sebagai seorang mantan birokrat teras dalam kementerian keuangan yang punya kekuasaan besar.

Ia berjanji di parlemen untuk bertindak secara independen jika direstui menjadi gubernur namun hal tersebut gagal mempengaruhi para anggota legislatif dari oposisi, yang mengatakan langkah selanjutnya terserah Fukuda. "Seperti dapat saya katakan dari laporan media, perdana menteri nampaknya merasa terganggu," kata Azuma Koshiishi, seorang anggota legislatif Partai Demokrat dalam majelis tinggi yang meragukan kesepakatan apapun untuk merestui Muto nantinya sebagai ganti konsesi-konsesi kebijakan.

"Saya pikir tidak mungkin mengubah alasan di balik oposisi kami hanya karena beberapa hari telah lewat," ia mengatakan kepada para wartawan.

Krisis kredit global yang memburuk telah menghapus harapan kenaikan suku bunga Jepang tahun ini, dimana sejumlah pemain pasar kini mengharapkan penurunan suku bunga dari tingkat yang sekarang 0,5 persen. (ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau