Perkembangan Epidemi HIV dan AIDS Memprihatinkan

Kompas.com - 12/03/2008, 13:09 WIB

JAKARTA, RABU-Perkembangan epidemi HIV dan AIDS di Indonesia sangat memprihatinkan. Jika pada tahun 2004 kasus AIDS ditemukan di 16 provinsi, maka pada tahun 2007 telah ditemukan di 32 provinsi. Dengan demikian, AIDS telah terjadi hampir di seluruh Indonesia.

Demikian disampaikan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta dalam sambutan pembukaan Lokakarya Nasional Perencanaan dan Penganggaran Penanggulangan HIV/AIDS di kantor Bappenas, Jakarta, Rabu, (12/3).

"Bahkan di Papua, prevalensi AIDS sangat tinggi dan telah terjadi pada populasi umum. Prevalensi ini dikhawatirkan akan terus meningkat karena kasus HIV juga terus meningkat. Walaupun saat iniada sekitar 6000 kasus HIV, namun diperkirakan populasi yang rawan tertular HIV sebanyak 193.000 orang," ungkap Paskah.

Menurut Paskah HIV dan AIDS dapat menyebabkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) turun dan mempunyai dampak terhadap ekonomi dan kemiskinan. Untuk itu, ia berpendapat perlu adanya koordinasi dalam menanggani masalah ini secara bersama-sama. "Koordinasi menjadi kata kunci yang sangat penting bagi penanggulangan HIV/AIDS, tidak hanya pada tingkat perencanaan, tetapi juga penganggaran, implementasi dan tata laksana kasus, baik di pusat dan daerah," katanya.

Selain masalah koordinasi, masalah lain dalam penanggulangan HIV/AIDS adalah soal pendanaan. Sampai saat ini, lanjut Paskah, pendanaan masih tergantung dari bantuan luar negeri yakni sekitar 70% dari dana penanggulangan berasal dari luar negeri dan itu mempunyai dampak kurang baik. " Kita menempatkan diri pada posisi ketergantungan pada donor tinggi. Kita tahu bahwa bantuan ini dapat berhenti sewaktu-waktu karena berbagai sebab," katanya.

Oleh karena itu, Paskah berpendapat bahwa sudah saatnya Indonesia mulai mengurangi ketergantungan tersebut dengan meningkatkan dana dari dalam negeri termasuk meningkatkan peran masyarakat dan dunia usaha. (DIV)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau