JAKARTA, KAMIS - Supaya tidak bergantung beras dan tepung terigu (gandum) Indonesia harus mengembangkan diversifikasi pangan, seperti mulai membiasakan konsumsi ubi, kentang dan jagung.
"Memang sulit mencabut gandum karena sudah sangat mengakar dan orang tergantung pada tepung. Karena itu ubi, kentang dan jagung pun bisa dibikin tepung," kata pakar teknologi pangan Prof AG Winarno PhD saat peluncuran program dana bantuan penelitian bagi kalangan akademisi 2008 di Jakarta, Kamis (13/3).
Usaha penepungan untuk ubi, jagung dan kentang perlu dilakukan supaya bahan-bahan tersebut lebih mudah diproses. "Kalau beras memang gampang diolah, tapi kalau jagung kan tidak gampang, jadi lebih baik dibuat tepung, " kata Winarno.
Terkait pengembangan diversifikasi pangan, agar tidak terpaku pada beras saja, para akademisi di Indonesia mulai dari dosen dan mahasiswa ditantang untuk melakukan riset bertema Penganekaragaman Pangan Berbasis Sepuluh Komoditi untuk Meningkatan Ketahanan Pangan dan Perbaikan Gizi.
Fokus penelitian pada singkong, kelapa sawit, sagu, jagung, gandum/terigu, pisang, ubi jalar, garut, kentang dan kedelai. Untuk memudahkan peserta, pengajuan proposal dilakukan secara online ke website www.indofood.co.id. Para penerima dana riset ini nantinya tidak hanya menerima bantuan dana penelitian begitu saja, tetapi memiliki kewajiban untuk mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya lewat presentasi di depan tim penilai.
Ketua tim penilai yaitu AG Winarno, dengan anggota Bayu K risnamurthi (Sosial Ekonomi Pertanian), Bustanul Arifin (Sosial Ekonomi Pertanian), Budi Prasetyo Widyobroto (Peternakan), Eko Handayanto (Budidaya Pertanian), Abdurrachim Halim (Teknik Mesin), Widjaya Lukito (Gizi dan Kesehatan), Purwiyatno Hariyadi (Rek ayasa Proses Pangan). (LOK)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang