Obat Kimia Picu Lahirnya Bayi Tanpa Anus

Kompas.com - 14/03/2008, 21:48 WIB

BAGI para ibu hamil, obat-obat kimia sebisanya harus dihindari. Pasalnya kontaminasi zat kimia pada kandungan seorang ibu hamil bisa menyebabkan lahirnya bayi tanpa anus (atresia ani).

Selain obat-obatan, makanan awetan dan alkohol juga dapat menyebabkan penyakit bawaan tersebut. "Atresia ani terjadi karena kontaminasi zat kimia terutama dalam usia tiga bulan kehamilan. Itu merupakan kelainan bawaan dan terjadi kesalahan pembentukan organ," ujar dr Caroline SpA, dokter spesialis anak kepada Kompas.Com via telepon, Jumat (14/3).

Kelainan ini merupakan bentuk kelainan bawaan di mana tidak adanya lubang dubur terutama pada bayi. Akibatnya bayi tidak dapat atau mengalami kesulitan mengeluarkan mekonium atau tinja. Perut bayi akhirnya menjadi buncit. Untuk itu, usai persalinan, lubang dubur bayi harus segera diperiksa karena kalau tidak dilakukan dapat mengancam jiwa bayi-bayi atresia ani. Jika selama tiga hari tidak diatasi, feses atau tinja bayi akan tertimbun hingga mendesak paru-parunya.

"Kalau sudah tahu, segera mungkin dilakukan pembedahan, dibuat lubang dubur dulu di perutnya. Soalnya kalau tidak keluar bahaya. Perut bayi jadi kembung," jelas Caroline. Setelah kondisi bayi membaik, seperti berat badannya sudah mencapai 10 kilo, itu sudah memadai untuk dibuatkan anus melalui operasi kedua.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau