Mobil Hibrida Terganjal Regulasi

Kompas.com - 15/03/2008, 21:37 WIB

JAKARTA, SABTU - Meski telah teruji ramah lingkungan dan irit bahan bakar, ternyata tak mudah untuk membawa mobil hibrida masuk ke pasar otomotif Tanah Air. Marketing Communication Toyota Hari Arifianto mengatakan, ada regulasi yang menghambat pemasaran mobil jenis ini di pasar Indonesia. Terutama, mengenai harga jual yang masih jauh di atas kendaraan non hibrida. Padahal, sebenarnya dapat dijual dengan harga yang lebih bersaing.

Hari mencontohkan, Toyota Prius, salah satu produk mobil hibrida yang baru dikenalkan Toyota. Karena masih harus didatangkan dari Jepang, kendaraan ini dibanderol tak kurang dari Rp490 juta. Padahal, bisa saja dijual dengan harga yang tak jauh dari Altis di kisaran Rp 280-290 juta. Kesenjangan harga yang cukup jauh, dinilai menjadi faktor yang menyulitkan untuk melepasnya ke pasar.

"Prius hibrida ini kan kita datangkan dari Jepang. Regulasi pemerintah tentang ini belum kondusif. Kurang kondusifnya, karena kendaraan ini diimpor dari Jepang, sehingga luxury tax-nya cukup tinggi. Kalau dari Jepang nggak ada diskon Asia Free Trade Area. Sehingga harga yang diperoleh estimasinya sekitar 490 juta-an. Tentunya kita merasa ini bukan level harga optimum sebuah Prius untuk dijual secara massal di Indonesia," kata Hari.

Di Indonesia sendiri, Prius baru tersedia 6 unit. Namun tidak untuk dijual umum, melainkan dirotasi untuk di-test drive oleh kalangan pejabat dan selebritis. Untuk mengkampanyekan pentingnya kendaraan hibrida, Toyota telah melakukan safari di beberapa universitas untuk memperkenalkan sistem hibrida ini. Diantaranya ke ITB, UI, ITS dan UGM. Harapannya, bisa memberi dorongan kepada pemerintah untuk menciptakan regulasi yang ramah terhadap kendaraan ramah lingkungan.

"Pentingnya kendaraan hibrida ini ini tidak hanya dari sisi jualan mobil semata. Kalau kita sharing tentang teknologinya ke universitas, akan semakin diketahui bahwa kendaraan ini irit konsumsi bahan bakar. Efeknya, pemerintah bisa mengurangi dana subsidi bahan bakar sehingga bisa dialokasikan untuk yang lebih penting. Misalnya kesehatan dan pendidikan. So far, regulasinya belum berubah. Siapa tau kalau kalangan pendidikan dan masyarakat makin akrab, pemerintah akan tergerak," lanjut Hari.

Ditambahkan Hari, kabar terakhir menyebutkan mobil hibrida bisa dijual dengan harga lebih murah, jika perakitan dilakukan di Indonesia. Namun, untuk perakitan ini masih harus diperhitungkan sisi ekonomisnya. "Kita harus perhitungkan kalau dirakit disini terkait volume atau sisi ekonomis ada berapa banyak kendaraan yang harus dijual. Sehingga, harga perakitannya bisa menutup operasionalnya secara ekonomis," pungkas dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau