BEIJING, MINGGU - Jam malam dan penjagaan ketat oleh ratusan polisi dan serdadu China di ibukota Tibet, Lhasa, telah membuat kota itu seperti mati. Penduduk masih dicekam ketegangan.
"Pagi ini sangat lengang. Polisi masih terus berpatroli di jalanan. Penduduk diimbau untuk tidak keluar rumah," kata seorang pegawai di balaikota Lhasa, Minggu pagi.
Seorang perempuan pegawai sebuah losmen mengaku bahwa semua pegawai dilarang keluar dari losmen oleh polisi, padahal mereka sudah kehabisan makanan. "Ada ratusan polisi di luar sana. Mereka melarang kami keluar. Kami terpaksa secara sembunyi-sembunyi ke pasar di dekat sini untuk membeli mie," katanya.
Kontrol ketat oleh pasukan keamanan Cina tersebut menyusul aksi protes disertai kekerasan yang dilakukan oleh pribumi Tibet pada Jumat lalu. Sempat terjadi kerusuhan berupa pembakaran dan penyerangan terhadap properti dan person keturunan China di kota itu.
Protes atas penguasaan China terhadap Tibet tersebut menewaskan, menurut versi pemerintah China, sebanyak 10 orang. Sedangkan versi perlawanan, dari kubu Dalai Lama, lebih dari 30 orang tewas.
Aksi tersebut jelas membuat pemerintah China berang, mengingat kejadian tersebut merupakan yang terburuk sejak dua dekade terakhir. Dan yang lebih penting, aksi itu mengganggu citra China yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade pada 8 - 24 Agustus, di Beijing. (AP)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang