Lhasa Bak Kota Mati, Dijaga Ekstra Ketat

Kompas.com - 16/03/2008, 13:14 WIB

BEIJING, MINGGU - Jam malam dan penjagaan ketat oleh ratusan polisi dan serdadu China di ibukota Tibet, Lhasa, telah membuat kota itu seperti mati. Penduduk masih dicekam ketegangan.

"Pagi ini sangat lengang. Polisi masih terus berpatroli di jalanan. Penduduk diimbau untuk tidak keluar rumah," kata seorang pegawai di balaikota Lhasa, Minggu pagi.

Seorang perempuan pegawai sebuah losmen mengaku bahwa semua pegawai dilarang keluar dari losmen oleh polisi, padahal mereka sudah kehabisan makanan. "Ada ratusan polisi di luar sana. Mereka melarang kami keluar. Kami terpaksa secara sembunyi-sembunyi ke pasar di dekat sini untuk membeli mie," katanya.

Kontrol ketat oleh pasukan keamanan Cina tersebut menyusul aksi protes disertai kekerasan yang dilakukan oleh pribumi Tibet pada Jumat lalu. Sempat terjadi kerusuhan berupa pembakaran dan penyerangan terhadap properti dan person keturunan China di kota itu.

Protes atas penguasaan China terhadap Tibet tersebut menewaskan, menurut versi pemerintah China, sebanyak 10 orang. Sedangkan versi perlawanan, dari kubu Dalai Lama, lebih dari 30 orang tewas.

Aksi tersebut jelas membuat pemerintah China berang, mengingat kejadian tersebut merupakan yang terburuk sejak dua dekade terakhir. Dan yang lebih penting, aksi itu mengganggu citra China yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade pada 8 - 24 Agustus, di Beijing. (AP)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau