Artalita Bantah Rumah di Hang Lekir Milik Syamsul

Kompas.com - 17/03/2008, 12:49 WIB

JAKARTA, SENIN - Tersangka kasus dugaan suap jaksa Kejaksaan Agung, Artalita Suryani, mengucapkan bantahan terhadap beberapa hal yang ditulis sejumlah media massa. Salah satunya, Artalita membantah rumah di Hang Lekir merupakan rumah Syamsul Nur Salim. Menurut dia, rumah yang menjadi lokasi penyuapan itu adalah rumah miliknya.

"Rumah itu, rumah milik saya pribadi. Saya membelinya beberapa tahun yang lalu," ujarnya sebelum memasuki gedung KPK untuk diperiksa tim penyidik, Senin (17/3).

Artalita, dalam kesempatan yang sama juga membantah jika dirinya tertangkap tangan di rumah yang diaku sebagai miliknya di Jalan Hang Lekir Jakarta Selatan. Dia menceritakan hanya mendengar suara berisik di halaman. Saat itu juga, dia meminta kepada anaknya untuk memeriksa halaman rumah.

"Saya suruh anak saya ngecek ke luar. Ternyata ada penyidik KPK. Saat itu, penyidik meminta saya ke kantor untuk dimintai keterangan. Ya saya mau," kata wanita berblazer hitam itu.

Artalita juga membantah pernah menjadi sekretaris Pengurus Besar Nadatul Ulama dan direktur utama Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI). Setelah itu, dia langsung masuk ke ruang lift gedung KPK. Artalita sendiri datang pada pukul 11.25 WIB.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau