ICW Minta Agus Martowardojo Jangan Dipaksakan

Kompas.com - 17/03/2008, 20:19 WIB

JAKARTA, SENIN - Badan Pekerja Indonesian Corruption Watch (ICW) Teten Masduki meminta agar pemerintah melalui partai-partai pendukungnya di Sidang Paripurna DPR, yang akan diselenggarakan pada Selasa (18/3), tidak memaksakan Agus Martowardojo yang telah ditolak Komisi XI DPR untuk menjadi Gubernur Bank Indonesia.

 

Pasalnya, selain membuat Agus semakin tidak kredible di mata pasar--karena sudah ditolak melalu fit and propers test yang fair-- pemaksaaan Agus juga akan membuat kehancuran sistem demokrasi yang sudah dibangun di DPR.    

"Sebaiknya, partai-partai pendukung pemerintah menerima saja keputusan Komisi XI DPR yang sudah menjalankan dengar publik dan mendengarkan misi dan visi calon-calon Gubernur BI melalui fit and proper test, termasuk Agus yang sudah diuji di hadapan anggota Dewan. Presiden seyogianya juga menerima dan kemudian mencalonkan nama baru sebagai Gubernur BI," kata Teten kepada Kompas di Jakarta, Senin (17/3) sore.

Menurut Teten, di tengah-tengah krisis moneter yang sangat kuat ini, diperlukan seorang Gubernur BI yang mumpuni di bidang moneter dan sekaligus mempunyai integritas dan kredibilitas yang tinggi. 

"Penolakan Komisi XI DPR sudah tepat, karena Agus dan Raden Pardede kurang tepat. Orang seperti Menko Perekonomian Boediono, cukup representasi. Apalagi Boediono juga termasuk orang dalam BI," tambah Teten.

Sosok lainnya, lanjut Teten, yang bisa dicalonkan Presiden di antaranya Direktur Jenderal Pajak Departemen Keuangan Darmin Nasution dan Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau