Marissa Haque, soal Wartawan dan Atut

Kompas.com - 18/03/2008, 06:39 WIB

Sudah 14 bulan lebih mantan calon Wakil Gubernur Banten, Marissa Haque Fawzi mencari kebenaran dan menuntut keadilan terkait dugaan pemalsuan ijazah serta penyimpangan hukum lainnya yang menyangkut Gubernur Banten terpilih, Ratu Atut Chosiyah. Polemik ini semakin menarik saat Marissa melaporkan Ratu Atut ke Mabes Polri, Kamis (6/3), serta Polda Metro Jaya, Jumat (7/3) lalu dan Polda memanggil Gubernur Banten tersebut satu hari kemudian.

Wartawan Tribun Pekanbaru, Fakhrurrodzi, berkesempatan mewancarai Marissa Haque mengenai pengaduannya tersebut serta gugatan wartawan yang tidak terima merasa dilecehkan olehnya.

Assalamualaikum Mbak Marissa?Bagaimana kabarnya?

Waalaikum Salam Warahmatullahi wa Barakatuh. Sehat, anda sendiri bagaimana?

Sehat. Mbak Apa benar Anda melecehkan para wartawan di Polda Metro Jaya?

Tidak benar, saya tidak pernah melecehkan teman-teman wartawan. Saya hanya bermaksud menyapa mereka sambil bercanda, Aduh kemana aja masih hidup loe? Tanya saya kepada mereka. Karena mereka saat saya kampanye selalu dekat dan membantu, jadi hanya bahagia dan kangen terus saya sapa.

Bagaimana tentang rencana wartawan ingin mengadukan Anda ke kepolisian?

Ya saya siap saja melayani aduan tersebut. Bukan hanya melayani mereka, saya akan adukan balik mereka-mereka tersebut ke polisian setelah saya bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pulang dari Afrika Selatan. Bapak Letjen Kurdi Mustofa sudah mengagendakannya. Bukan hanya itu, saya akan lakukan demonstrasi sendirian ke istana wakil presiden mempertanyakan kenapa tetap juga dilantik (gubernur dan wakil gubernur Banten), sedangkan kasus tersebut masih di pengadilan.

Kenapa Mbak mengadukan balik mereka?

Karena mereka telah membuat berita bohong, ini kebohongan publik. Saya dituduh diperiksa selama enam jam. Kedatangan saya menyerahkan novum, bukti baru tentang kepemilikan ijazah aspal (asli tapi palsu) milik Ratu Atut kepada penyidik. Selebihnya ngobrol-ngobrol, makan, sharing dan diskusi serta berfoto-foto. Tanya aja sendiri ke penyidik. Saya di dalam sana hanya satu setengah jam. Tolong anda catat, namanya Fany dan Heru dari Satelit News, Ubay dari Media Indonesia serta Sugeng dari Metro TV termasuk di dalamnya.

Anda kehilangan bukti-bukti ijazah Aspal Ratu Atut. Apa iya?

Logika saja mas, tidak mungkin saya menyerahkan bukti-bukti baru di saat bukti-bukti lainnya hilang. Tidak mungkin saya serahkan semuanya, tentu ada back up-nya. Memang uang hasil keringat saya, halal sebesar Rp 500 juta lenyap ke tangan-tangan markus (makelar kasus). Saya miliki semua buktinya kok, ada transkrip nilai yang sudah di-tipe ex, hasil ujian cuma satu tanda tangan dosen penguji dan lainnya dari Universitas Borobudur.

Andakan sudah kalah, kenapa masih tetap berjuang untuk itu?

Mesti masyarakat ketahui, proses peradilan yang saya tempuh, perdata, pidana maupun tata usaha negara belum memiliki kekuatan hukum tetap atau final, incracht. Ratu Atut hanya pandai memecah konsentrasi saya
saja, saya yang adukan dia, bukan saya diadukan Atut. Silahkan tanya ke Mahkamah Agung, ini perlakuan diskriminasi terhadap warga negara dalam kasus pilkada.

Kok masih nekat?

Jangankan hanya itu, empat hari lalu saya bernazar siap korbankan jiwa saya demi Banten. Mati dalam keadaan syahid, ini'kan jihad, melawan kemungkaran dan ketidakadilan. Tawakal kepada-Nya, apapun yang terjadi termasuk hasilnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau