Gula Bisa Sebabkan Asma?

Kompas.com - 18/03/2008, 18:45 WIB

GULA ternyata tidak hanya akan membuat anak-anak Anda menjadi rentan terhadap obesitas.  Namun menurut hasil sebuah studi pendahuluan pada binatang, gula juga ternyata dapat memicu timbulnya penyakit asma.
 
Berdasarkan sebuah laporan yang dipublikasi tahun lalu, asma merupakan penyakit yang menyerang hampir 10 persen anak-anak dan remaja.  Angka kasus ini meningkat dua kali lipat di bandingkan era 1980-an.

Kebiasaan makan yang buruk, termasuk terlalu banyak mengonsumsi permen dan makanan mengandung gula, disebut-sebut sebagai salah satu faktor yang menyebabkan meningkatnya kasus asma pada anak dan remaja, ungkap Sonya Kierstein PhD, peneliti dari Nestle Research Center di Lausanne, Swiss.

Kierstein dan rekannya membuat hipotesa bahwa konsumsi makanan yang kaya akan gula menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi rentan terhadap peradangan atau inflamasi yang bersifat alergis.  Peradangan sendiri dapat menimbulkan penyempitan  saluran serta mempengaruhi produksi mukus sehingga menghasilkan gejala asma seperti bersin dan sesak nafas.

Kierstein, yang melakukan riset di Universitas Pennsylvania, mempresentasikan temuannya dalam pertemuan tahunan American Academy of Allergy, Asthma and Immunology.

Untuk menguji teorinya, Kierstein dan rekannya meneliti dua kelompok tikus, yang mana satu kelompok diberi air biasa dan kelompok lain diberikan air gula.

¨Perilaku mereka seperti anak-anak.  ketika mereka diberi air gula, mereka minum dan terus minum lagi,¨ terang Kierstein.

Kedua kelompok tikus ini lalu disuntik dengan sejenis alergen supaya mereka menjadi lebih toleran dengan alergen tersebut.  Maksud toleran disini adalah memperkuat sistem kekebalan tubuh serta mengatasi efek paparan alergen di kemudian hari.  Alergen sendiri merupakan substansi yang dapat menimbulkan reaksi alergi seperti hidung berair, gatal-gatal serta dapat memicu gejala asma.

Kedua kelompok ini lalu disuntik lagi dengan alergen yang sama dan kemudian para peneliti memantau apakah timbul perbedaan dari seberapa rentan mereka terhadap peradangan pada saluran serta respon alergi.

¨Apa yang kami temukan bahwa tikus yang diberi gula  dua kali lebih rentan terhadap peradangan saluran ketimbang yang diberi air saja.  Sistem kekebalan mereka juga lebih aktif, sehingga menjadi lebih rentan terhadap asma.    

Asriani  M. Chiu, MD,  ahli alergi anak dari Medical College of Wisconsin di Milwaukee mengatakan  hasil temuan ini merupakan bukti lain yang menjadi alasan bahwa anak sebaiknya tidak terlalu banyak mengonsumsi gula.

Salah satu cara mudah untuk mengurangi asupan gula pada anak adalah mengganti minuman soda atau fruit punch kaya gula dengan  jus buah yang tidak ditambahkan lagi gula.

¨Bacalah label kemasan.  Banyak orang tua yang tak tahu bahwa sirup dengan gula frukotsa jagung, gula yang banyak ditemukan pada minuman buah-buahan, hanyalah bentuk lain dari gula,¨ jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau