WASHINGTON, JUMAT - Dokumen berisi jadwal harian Hillary Clinton saat menjadi ibu negara mengungkap kebohongan calon presiden dari Partai Demokrat itu.
Demikian diungkapkan tim kampanye pesaing Hillary, Barack Obama, Kamis (20/3) atau Jumat (21/3) waktu Indonesia. Menurut Obama dokumen itu menunjukkan bahwa Hillary berbohong terhadap pemilihnya ketika mengaku menentang NAFTA, perjanjian perdagangan bebas AS, Kanada dan Meksiko. Perjanjian itu dituding menjadi penyebab banyak orang Amerika kehilangan pekerjaan.
Dokumen ini menjadi bahan pertengkaran baru bagi Hillary dan Obama, padahal mereka belum menyelesaikan perselisihan soal pemilihan pendahuluan di Florida dan Michigan. Menurut tim Obama, dokumen itu menjelaskan klaim Hillary bahwa dia berpengalaman dalam politik luar negeri tidak berdasar.
Kubu Obama juga menyinggung laporan ABC News yang mengutip salah satu peserta pertemuan di Gedung Putih pada 1993 bahwa Hillary sangat mendukung NAFTA. "Tidak mengherankan kalau kemudian ini menjadi salah satu alasan mengapa sulit sekali mendapatkan dokumen itu," kata David Axelrod, ahli strategi Obama.
Sebelum pemilihan pendahuluan di Ohio 4 Maret, Hillary mengecam Obama yang menurutnya tidak konsisten tentang sikapnya terhadap NAFTA, sekaligus menegaskan posisinya terhadap pakta yang diperjuangkan dengan keras agar gol di Kongres. Hillary mencoba memberikan harapan pada Ohio dan Texas yang dianggap paling menderita akibat NAFTA. "Masalahnya hanya satu, waktu itu dia (Hillary) tidak ngomong yang sebenarnya kepada pemilih di Ohio," kata Axelrod.
"Memberi gambaran yang salah dan mengatur kata-kata agar tidak ketahuan belangnya adalah gaya berpolitik yang ingin dibongkar oleh Obama," lanjutnya.
Namun tuduhan itu dibantah keras oleh kubu Hillary yang saat ini berupaya keras memenangi pertarungan berikutnya di Pennsyvania 22 April. "Soal bahwa NAFTA menjadi prioritas pemerintahan Bill Clinton memang benar. Namun banyak fakta juga bahwa Hillary secara pribadi menentang keras perjanjian itu dan dia konsisten," demikian pernyataan pers kubu Hillary.
Isi jadwal yang dipublikasikan Rabu (19/3) itu ternyata hanya sedikit yang bisa dijadikan bukti pendukung klaim Hillary bahwa dia punya peran penting dalam mengatasi krisis kebijakan luar negeri semasa suaminya memerintah. Misalnya, kasus Irlandia Utara dan Kosovo.
Dokumen itu menunjukkan bahwa Hillary lebih banyak memainkan peran tradisional seorang ibu negara seperti di bidang sosial dan melalukan perjalanan ke luar negeri untuk misi-misi non politik.
Namun, juru bicara Hillary, Jay Carson mengatakan dokumen itu seharusnya tidak dilihat sebagai materi yang komprehensif untuk menggambarkan menit per menit kegiatan Hillary sebagai ibu negara.(AP)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang