Kasus Buyung, Deplu Minta Klarifikasi Singapura

Kompas.com - 21/03/2008, 12:23 WIB

JAKARTA, JUMAT - Pemerintah Indonesia akan segera meminta klarifikasi kepada Pemerintah Singapura, dalam hal ini otoritas yang terkait dengan keimigrasian, menyusul pemeriksaan selama 2,5 jam yang dialami Mantan Jaksa Agung Abdurrahman Saleh dan Pengacara senior Adnan Buyung Nasution di Bandara Changi, Singapura, Kamis (20/3).

Demikian disampaikan juru bicara Departemen Luar Negeri, Kristiarto Legowo kepada Kompas.com, Jumat (21/3)."Sudah ada laporan dari Kedutaan Besar Indonesia di Singapura bahwa pada intinya telah terjadi peristiwa tidak menyenangkan terhadap dua warga negara Indonesia. Laporan sementara, kedubes di Singapura telah melakukan koordinasi dengan pihak imigrasi di Bandara Changi," ujar Kristiarto.

Keterangan sementara, pihak Bandara Changi memang selalu melakukan prosedur rutin pemeriksaan secara random terhadap para penumpang yang tiba menggunakan penerbangan terakhir. "Dan kebetulan, Pak Adnan dan Pak Arman menggunakan penerbangan terakhir, dan pas kena random pemeriksaan. Ini katanya dilakukan secara acak. Petugas Kedubes RI sudah dikirim ke Bandara, sudah dapat penjelasan dan masalahnya sudah selesai," lanjut dia lagi.

Meskipun demikian, ujar Kristiarto, secara resmi Pemerintah Indonesia tetap akan meminta klarifikasi kepada pihak otoritas terkait di Singapura.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau