Kawasan Anyer-Carita dan Merak Dipadati Pengunjung

Kompas.com - 22/03/2008, 04:35 WIB

SERANG, SABTU - Libur panjang selama empat hari membuat pantai wisata di sepanjang Anyer hingga Carita dipadati pengunjung. Selain itu, kepadatan juga terjadi di Pelabuhan Penyeberangan Merak di Kota Cilegon, Banten. Berdasarkan pantauan, para pengunjung mulai memadati pantai wisata di Anyer hingga Carita sejak Kamis (20/3). Wisatawan yang berkunjung terlihat pelat nomor kendaraan yang berasal dari Jakarta, Tangerang, Bogor, Lampung, dan daerah di sekitar Banten lainnya.

Sebagian dari mereka memilih berekreasi di pantai umum, sedangkan sebagian lainnya menginap di sejumlah hotel serta tempat peristirahatan yang berada di sepanjang Pantai Anyer di Kabupaten Serang, hingga Carita di Kabupaten Pandeglang. Tingkat hunian hotel selama libur panjang antara 70 hingga 90 persen. Jumlah itu meningkat dari tingkat hunian pada libur akhir pekan, yang rata-rata hanya mencapai 50-80 persen.

Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banten Agus Santos menuturkan, tingkat hunian Hotel Patra Jasa mencapai 91 persen, Mambruk 88 persen, Marina 78 persen, Marbella 69 persen, Nuansa Bali 52 persen, dan Sangiang 34 persen. Pengunjung lumayan padat pada long weekend ini, tetapi kepadatan ini tidak seperti biasanya. Rata-rata pengunjung tidak mem-booking tempat dahulu. Mereka langsung datang bersama keluarga dan memesan kamar,” ujar Santos.

Namun sayangnya banyak wisatawan yang mengeluhkan jalan rusak di sepanjang Cilegon- Anyer-Carita. ”Sangat tidak nyaman, kerusakan jalannya begitu parah. Agak sulit untuk dilintasi karena kami harus bergantian berjalan,” tutur Bayu Sagara, asal Cikande, Serang.

Merak padat

Selain kawasan wisata Anyer dan Carita, Pelabuhan Penyeberangan Merak juga padat. Antrean kendaraan yang didominasi kendaraan pribadi mulai terjadi sejak Rabu malam dan baru berangsur normal pada Jumat pagi kemarin.  Antrean terjadi akibat meningkatnya jumlah penumpang yang akan menyeberang ke Pulau Sumatera. Menurut data yang dihimpun PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Merak, jumlah penumpang pejalan kaki naik dari rata-rata 3.000 orang per hari menjadi 14.000 orang.

Jumlah kendaraan pribadi yang menumpang kapal roll on roll off (roro) juga naik dari rata-rata 1.250 mobil per hari menjadi 4.000 mobil. Jumlah sepeda motor naik dari 500 menjadi 1.000 unit, penumpang dengan sepeda motor juga naik dari 500 menjadi 1.000 unit. Volume truk yang memasuki Pelabuhan Merak tetap normal, yakni sekitar 2.000 truk.

Lokasi wisata di Jakarta

Kawasan Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, juga diserbu pengunjung. Jumlah pengunjung pada Kamis mencapai 26.839 orang. Jumlah pengunjung jauh di atas hari libur biasa yang rata-rata 10.000-20.000 orang. ”Kami memperkirakan jumlah pengunjung mencapai puncaknya hari Minggu (23/3) besok,” kata staf Subbidang Promosi dan Pameran Taman Margasatwa Ragunan, Wahyudi Bambang Prihantoro, Jumat.

Cuaca Jumat kemarin di Ragunan pada pukul 15.00 sempat diguyur hujan. Sejumlah pengunjung yang sedang asyik menggelar tikar untuk beristirahat bersama keluarga di taman-taman terpaksa bubar. Jumlah pengunjung di Ragunan kemarin pukul 13.15 tercatat 15.000 orang. 
Sementara itu, dari pengamatan di lapangan terjadi antrean panjang pada loket gajah tunggang dan kuda tunggang. Pengunjung juga relatif banyak yang mendatangi obyek Pusat Primata Schmutzer—meski dikenai biaya tambahan Rp 5.000 untuk melihat-lihat satwa langka gorila di dalamnya.

”Pusat Primata Schmutzer memang unik dan menjadi daya tarik tersendiri, sebab untuk wilayah Asia yang memiliki gorila itu hanya di Ragunan (terdapat tiga gorila jantan) dan Jepang. Proses perizinannya rumit. Gorila asal Afrika itu didatangkan dari kebun binatang Inggris,” ujar Wahyudi.  Koleksi satwa di Taman Margasatwa Ragunan yang berdiri di atas tanah latosol merah seluas 140 hektar itu kini sebanyak 3.500 ekor. Ribuan satwa itu dari segala penjuru Indonesia maupun luar negeri.

”Di kebun binatang seperti di sini suasananya adem, banyak pohon rindang. Oleh karena itu, saya memilih ke sini. Selain mencari suasana baru juga sekalian merayakan ulang tahun anak saya yang kemarin genap berusia dua tahun,” ungkap Ny Istikomah (30), warga Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Menurut Ny Sarmini, warga Kecamatan Sawangan, Depok, sudah lama dirinya tidak ke Ragunan. Kebetulan ada hari libur panjang, jadi bersama keluarga dan saudara dekat jalan-jalan ke Ragunan. Rekreasi di Ragunan selain edukasi bagi anak, biayanya juga murah meriah. 
Sementara itu, jumlah pengunjung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jumat (21/3), tak sebanyak di Ragunan, yaitu sekitar 10.000 orang. Jumlah itu di bawah jumlah pengunjung pada hari libur atau Minggu yang mencapai 20.000-25.000 orang.

”Kalau pada Kamis (20/3) jumlahnya mencapai 20.000 orang. Jumlah itu rata-rata pada hari Minggu atau libur. Hari ini (Jumat) jumlah pengunjung berkurang, mungkin selain banyak yang shalat Jumat juga misa Jumat Agung,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat TMII Jerry Lahama. (nta/SEM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau