Calon Gubernur BI, Presiden Tunggu Jawaban DPR

Kompas.com - 23/03/2008, 17:25 WIB

BANDUNG, MINGGU - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama satu hingga dua hari mendatang ini masih akan menunggu jawaban dari DPR atas penolakan secara resmi calon gubernur Bank Indonesia (BI) baru-baru ini.  Dengan adanya jawaban DPR mengenai alasan penolakan tersebut, Presiden Yudhoyono bisa mencari calon gubernur BI yang baru dan sesuai dengan harapan DPR serta sesuai dengan Undang-Undang BI.

Hal itu disampaikan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menjawab pers, sebelum meninggalkan Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, menuju kembali ke Jakarta, Minggu sore (23/3). Wapres sebelumnya membuka pertemuan atau Tepang Sudagar Tatar Sunda di Gedung Pertemuan BI Bandung di Bandung.

"Presiden lagi menanyakan kepada DPR, apa alasan penolakan calon gubernur BI yang diajukannya. Itu penting. Sebab, bagaimana Presiden bisa menyiapkan calon yang sesuai dengan harapan DPR," ujar Wapres.

Menurut Wapres, jika tidak ada kesepakatan dengan DPR mengenai kriteria calon gubernur yang baik itu, sulit mencalonkan nama yang sesuai dengan UU dan kriteria DPR. "Kita harapakan satu-dua hari ini DPR memberikan penjelasan, sehingga Presiden bisa memilih calon yang sesuai UU dan kriteria dari calon yang tidak ditolak oleh DPR. Penolakan itu kan harus sesuai dengan kriteria UU BI," papar Wapres. (har)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau