JAKARTA, SENIN - Ekonom INDEF, Fadhil Hasan mengatakan kebijakan ekonomi nasional tersandera oleh pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
"Pemerintah terus terang tersandera dengan pernyataan politik presiden beberapa waktu lalu yang tidak akan menaikkan harga BBM. Padahal dengan kondisi seperti sekarang ini opsi menaikkan harga BBM cukup rasional," kata Fadhil dalam jumpa pers dengan sejumlah Ekonom INDEF lainnya di Jakarta, Senin (24/3).
Presiden dalam sebuah acara di Bogor beberapa waktu lalu berjanji tidak akan menaikkan harga BBM sampai masa pemerintahannya berakhir 2009 nanti.
Menurut Fadhil kalaupun hendak menaikkan harga BBM perlu dilakukan secara hati-hati dan bertahap. "Misalnya dalam beberapa bulan dinaikkan 5-15 persen. Tidak langsung menaikkan 120 persen misalnya," katanya.
"Persoalan APBNP saat ini adalah pada lifting harga minyak dan ke depan harus memperbaiki lifting minyak yang realistis," katanya.
Sementara itu ekonom Senior INDEF, Bustanul Arifin mengatakan bila pemerintah tidak menaikkan harga BBM maka akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa menjadi masalah besar. "Jangan kemudian menaikkan harga BBM tahun 2009 nanti ketika masa pemerintahan telah usai," ujarnya.
Sebelumnya pengamat perminyakan, Kurtubi, mengingatkan opsi rencana menaikkan harga BBM akan menyalahi janji presiden yang tak akan menaikkan harga BBM. (Persda Network/aco)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang