Produksi Susu di Banyumas Menurun 20 Persen

Kompas.com - 24/03/2008, 18:49 WIB

BANYUMAS, SENIN - Sejak harga kedelai melonjak tinggi, peternak sapi perah di Kabupaten Banyumas juga ikut mengalami kesulitan. Produksi susu sapi perah mereka anjlok drastis hingga 20 persen lebih.

Ampas tahu yang selama ini diandalkan menjadi makanan tambahan untuk ternak sapi perah mereka, naik sampai dua kali lipat lebih dan sulit diperoleh. Peternak juga sempat direpotkan oleh harga bekatul yang juga ikutan naik hingga dua kali lipat.

Sugiri (30), peternak sapi perah di Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen, Senin (24/3), mengatakan, sekarang ini harga satu keranjang isi 40 kilogram ampas tahu mencapai Rp 12.000, dari harga sebelumnya hanya berkisar Rp 5.000 per keranjang.

S ebenarnya tak hanya mahal harganya, ampas tahu itu sendiri untuk sekarang ini semakin sulit diperoleh. Sejak harga kedelai melonjak tinggi, banyak perajin tahu di sekitar Kecamatan Cilongok dan Pekuncen yang gulung tikar, tuturnya.

Berkurangnya ketersediaan sekaligus mahalnya harga ampas tahu, membuat produksi susu sapi perah Sugiri pun menurun, dari 12 liter per hari setiap ekornya menjadi delapan liter per hari. Lumayan berat juga kalau seperti ini karena beban kerjanya tetap besar, terutama untuk mencari rumput. Padahal untuk meningkatkan kualitas dan jumlah produksi susu harus didukung oleh makanan tambahan, seperti ampas tahu itu, lanjutnya.

Kondisi serupa juga dialami oleh Darwo Sukarso (45), peternak sapi perah skala sedang di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang. Produksi susu dari delapan sapi perahnya secara total turun dari 30 liter per hari menjadi 24 liter per hari. Hanya saja, menurutnya, menurunnya jumlah produksi susu miliknya disebabkan oleh ketersediaan bekatul di pasaran yang kualitasnya kurang baik sejak harganya melonjak dari Rp 800 per kg menjadi Rp 1.600 per kg.

"Karena mahal, bekatul yang beredar di pasaran itu banyak yang dicampur sekam. Dampaknya, produksi susu sapi perah saya menurun sampai 20 persen. Ini sangat merugikan petani," ucapnya.

Baru sepekan belakangan ini, lanjutnya, dirinya memperoleh bekatul dengan kualitas baik. Itu pun sejak harga bekatul turun menjadi Rp 1.000 per kg. Sebaiknya pemerintah tak hanya menjaga stabilitas harga pangan, tapi juga kualitasnya. "Kalau kualitasnya juga ikutan turun, peternak seperti saya pun akan ikutan merugi," katanya.

Ketua Koperasi Peternak Satria Kabupaten Banyumas Ahmad Afaro Aitum pun mengatakan, sejak harga kedelai melonjak tinggi pasokan susu sapi perah dari sekitar 300 peternak di Banyumas ke koperasinya turun hingga 20 persen, dari 2.000 liter per hari menjadi 1.600 liter per hari.

"Ini juga memengaruhi produksi susu di koperasi ini. Biasanya kami bisa memasok 4.000 liter susu segar setiap dua hari sekali ke Frisian Flag dan Sari Husada, sekarang hanya bisa empat hari sekali dan itu pun harus bergantian setiap minggunya," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau