NEW YORK,SENIN - Harga minyak dunia pada pedagangan di New York Mercantile Exchange, Senin (24/3) waktu setempat, turun mendekati 100 dollar AS, seiring menguatnya dollar AS serta berkurangnya daya tarik pasar berjangka energi dan komoditas lainnya.
Banyak investor yang melihat bahwa komoditas seperti minyak sebagai pelindung investasinya terhadap inflasi dan menurunnya dollar AS, sehingga saat mata uang Paman Sam itu bangkit, harga minyak menjadi turun. Menguatnya dollar AS juga membuat harga minyak menjadi mahal bagi para investor yang tidak menggunakan dollar.
Para analis yakin melemahnya dollar AS menjadi penyebab utama melambungnya harga minyak hingga mendekati 112 dollar AS per barrel pekan lalu, namun efeknya berbalik saat dollar AS kembali menguat. "Secara umum sepertinya masih dipengaruhi dollar," sebut Addison Armstrong, director of exchange traded markets TFS Energy Futures LLC di Stamford, Connecticut, seperti dikutip AP.
Kontrak utama minyak berjangka di New York, minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Mei, ditutup turun 98 sen pada 100,86 dollar AS per barrel. Kamis pekan lalu, ditutup pada 101,84 dollar AS setelah sempat berada di bawah level 100-dolar AS.
Di London, minyak mentah jenis Brent North Sea untuk pengiriman Mei turun 52 sen pada 99,86 dollar AS, setelah berakhir pada 100,38 dollar AS pada Kamis.
Selain itu, para pedagang juga mengungkapkan, ekspektasi melambatnya pertumbuhan di AS, yang merupakan ekonomi terbesar dunia, sehingga akan mengurangi permintaan minyak, ikut menyumbang turunnya harga minyak.
Kecemasan baru tentang momentum ekonomi AS muncul kembali sejak OECD pekan lalu merilis sebuah laporan yang memberikan kesan ekonomi AS sedang bergerak menuju sebuah resesi yang ditunjukkan dengan turunnya proyeksi pertumbuhan AS.
Para ekonom percaya beberapa komoditi seperti minyak dapat turun harganya jika pertumbuhan AS dan global menurun signifikan. Beberapa pedagang menyakini harga minyak dapat turun lagi pada hari-hari mendatang. Mereka meyakini importir minyak terbesar di dunia itu sudah berada dalam resesi.
Para analis OECD yakin pertumbuhan AS akan terhuyung sebagian akibat merosotnya sektor perumahan yang sedang berlangsung, yang mereka katakan kemungkinan akan mengurangi harga rumah untuk beberapa waktu mendatang. "Dukungan sekarang pada level 100 dolar AS, karena pasar fokus pada melemahnya permintaan AS," kata Tony Nunan, dari Mitsubishi Corp’s di Tokyo seperti dikutip AFP.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang