Yogyakarta, Harga Pangan Tinggi

Kompas.com - 25/03/2008, 18:29 WIB

YOGYAKARTA, SELASA - Harga-harga produk pertanian seperti jagung, kedelai, dan gandum diprediksi tetap akan tinggi dan tidak akan kembali pada level semula sebelum kenaikan harga. Pemerintah harus menyikapi fakta tingginya harga pangan tersebut lebih serius terutama mengatasi ketidakmampuan beli dari masyarakat. Dengan kenaikan harga beras dunia yang mencapai 700 dollar AS per ton, pemerintah dinilai perlu membiarkan harga beras dalam negeri naik, namun harus terkontrol dan bertahap.  

Harga produk pertanian internasional sekarang tidak lagi murah. Kebijakan pertanian menjadi sangat penting, bagaimana merangsang petani berproduksi lagi, terutama yang pokok. Dalam rangka itu, petani perlu diberi akses yang dipermudah, seperti modal kerja, benih unggul. "Mereka perlu mendapatkan proteksi yang baik," ujar Wakil Direktur PT Indofood Sukses Makmur, Franciscus Welirang, Selasa (25/3) di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta saat menjadi pembicara dalam dialog pangan Mencari Solusi Ancaman Krisis Pangan .

Welirang mengungkapkan, akan terjadi titik keseimbangan harga yang baru yang lebih tinggi dari sebelumnya. Kondisi itu, harus menjadi perhatian pemerintah untuk bersiap menghadapi equilibrium baru. Ancaman krisis pangan dunia, lanjutnya, sebenarnya mulai muncul tahun 2006, saat harga biji-bijian naik 20 persen. Industri etanol yang tumbuh subur telah berpengaruh pada ekspor-impor gandum. K onversi ke biofuel menyebabkan tingginya permintaan terhadap produk pertanian seperti jagung.

Stok pangan dunia yang pada tahun 1999 sebesar 116 hari, kini diperkirakan hanya menjadi 57 hari seperti diumumkan FAO. Kebijakan pemerintah Amerika Serikat untuk merangsang produksi biofuel, sehingga industri biofuel kini sudah berdiri di sekitar ladang-ladang jagung di Iowa. "Akibatnya, ekspor jagung dari AS akan turun," ungkapnya.

Kebijakan biofuel dari bahan jagung juga dicanangkan China dengan target 1 miliar ton etanol pada tahun 2008, serta Eropa, Australia, dan Jepang. Kenaikan harga pangan antara lain juga karena efek pemanaan global berupa cuaca buruk, gagal penen. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia yang mengakibatkan biaya pengiriman naik. Untuk memenuhi kebutuhan biofuel dari jagung, diperkirakan lahan kedelai dan gandum berkurang karena diganti jagung. "Harga jagung akan meningkat terus karena kebutuhan sangat besar," ujarnya.

Menghadapi ancaman krisis pangan masing-masing negara akan melakukan proteksi terhadap stok pangan masing-masing. Karena itu, sektor pertanian pangan dalam negeri harus serius diperhatikan. Kredit-kredit modal kerja untuk usaha tani perlu dirangsang melalui perbankan yang langsung kepada koperasi primer usaha tani bu kan koperasi sekunder. "Tim atau lembaga penyuluhan pertanian harus direvitalisasi. Pengembangan benih-benih unggul harus dirangsang," katanya.

Pakar Pertanian Bustanul Arifin menyatakan, peningkatan produksi pangan strategis wajib menjadi acuan kebijakan baik di tingkat pusat maupun provinsi/kabupaten/kota. Kebijakan itu harus fokus kepada empat komoditas pangan strategis yaitu beras, jagung, kedelai, dan gula. "Perumus kebijakan perlu lebih realistis dalam menyikapi dan mengantisipasi perubahan-perubahan harga komoditas dunia," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau