Ratusan Korban Banjir di Kabupaten Banjar Mengungsi

Kompas.com - 25/03/2008, 18:53 WIB

MARTAPURA, SELASA - Banjir yang melanda wilayah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Selasa (25/3), semakin meluas. Sedikitnya terjadi pada enam wilayah kecamatan yang berada di sepanjang Sungai Riam Kiwa dan Martapura. Meski dilaporkan tidak ada korban jiwa, namun yang parah dialami warga di Desa Tanah Abang, Kecamatan Mataraman.

Sedikitnya 33 keluarga atau 113 jiwa warga di desa yang berada di kawasan perkebunan karet PTPN XIII itu terpaksa mengungsi sejak Senin (24/3) sore. Hal ini terjadi akibat wilayah pemukiman terendam banjir setinggi lebih satu meter.

Sementara di Kecamatan Bati-bati, Kabupaten Tanahlaut banjir juga masih bertahan. Ribuan rumah warga sampai saat ini masih tergenang air setinggi 20 senti meter hingga 80 sentimeter.

Mereka dievakuasi dan ditempat di tenda-tenda pengungsian sementara. Untuk keperluan mereka, Pemerintah Kabupaten Banjar telah membantu beras, mi instan dan ikan sarden dilengkapi dengan peralatan masak serta dapur umum, kata Camat Mataraman, Rubaini, saat ditemui di lokasi pemukiman yang berada di jalan menuju pemukiman warga tersebut.

Selain wilayah Mataraman, banjir juga melanda sebagian kecamatan lainnya, yakni Sungai Pinang, Pengaron, Astambul, Tambak Anyar dan Martapura Barat. Kondisi yang juga cukup parah terjadi di wilayah Astamba l di sedikitnya dua sekolah dasar diliburkan akibat terendam banjir. Sementara murid kelas VI yang tengah melakukan persiapan ujian nasional, terpaksa dikumpulkan di rumah warga yang tidak terkena banjir untuk mengerjakan soal try out.

Keterangan yang dihimpun dari beberapa warga, dalam bulan Maret ini sudah terjadi dua kali banjir. Namun, banjir tersebut tidak separah yang terjadi tahun 2006. Musibah ini sering terjadi dalam tiga tahun terakhir karena daerah hulu Sungai Riam Kiwa sudah nyaris tidak berhu tan lagi. Selain itu juga menjadi areal pertambangan batu bara baik legal maupun ilegal.

 

Sementara banjir yang melanda di Kecamatan Bati-bati, Kabupaten Tanahlaut, pada Selasa siang juga masih bertahan. Sedikit 1.212 rumah warga masih terendam. Akibatnya, warga terpaksa mendirikan panggung di dalam rumah untuk menyelamatkan barang-barang mereka.

Suratno, petugas satuan pelaksana penanggulan bencana Kabupaten Tanahlaut, mengatakan, saat ini dapur umur sudah disiapkan. Sementara pelayanan puskesmas di buka selama 24 jam untuk para korban banjir.

Banjir di daerah ini terjadi diduga akibat empat kawasan hutan lindung, yakni Gunung Lintang, Gunung Belanda, Gunung Langkaras dan Damara Gurun dengan luas tottal sekitar 5.000 hektar yang berlokasi di kaki Pegunungan Meratus itu sudah gundul. Kondisi itu terjadi karena sebelum dijadikan hutan lindung tahun 1990 merupakan kawasan hak pengusahaan hutan (HPH) dan dalam beberapa tahun terakhhir terus ditebangi secara liar.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau