JAKARTA, SELASA - Meski ada banyak warga yang sudah merasakan keuntungannya menggunakan bahan bakar gas dan kompor konversi, tetapi keluhan-keluhan seputar konversi minyak tanah ke gas itu masih banyak bermunculan di masyarakat.
Sejumlah ibu yang mengantre minyak goreng di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan, Selasa (25/3), misalnya, mengeluhkan kualitas kompor yang membuat mereka takut menggunakannya. Mereka bahkan menganggap pemerintah terlalu terburu-buru melaksanakan program konversi energi dari minyak tanah, sehingga kurang memperhatikan kualitas kompor yang dibagikan gratis itu.
Ibu Hadi, warga RT 03/RW 08, mengatakan, banyak warga yang mendapatkan kompor gas yang rusak ketika dibagikan. "Saya juga dapat yang rusak. Setiap dinyalakan, ada bunyi 'sssh,ssssh' gitu. Selangnya bocor kayaknya. Jadinya ya ngeri untuk dipakai," katanya.
Ani, warga RT 05/RW 08, juga mengatakan hal yang sama. Kepala selang kompor gas ketika pertama kali didapatkannya ternyata juga bocor. Ia lantas memilih untuk membeli lagi kepala selang yang baru. "Saya terpaksa beli lagi, 75 ribu-an," ujar Ani.
Meski demikian, Ani tetap menggunakan kompor gas gratis itu sampai sekarang, dan ternyata lebih hemat. Siti Rahayu, warga RT 04/RW 13, juga mengaku tetap menggunakan kompor gas pembagian itu meski masih agak takut-takut. Ia juga merasa lebih murah menggunakan gas dibandingkan minyak tanah.
"Dari segi biaya memang lebih murah. Kalau saya kan pake untuk masak sehari-hari aja, jadi sekitar 14 ribuan gas-nya untuk dua sampai tiga minggu," ujar Siti.
Siti menambahkan bahwa di warung-warung di lingkungan tempat tinggalnya memang sudah tidak ada yang menjual minyak tanah lagi dalam beberapa minggu terakhir. Oleh karena itu, beberapa tetangganya ada yang membeli minyak tanah di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terdekat dengan harga Rp 43.000-Rp 44.000 per lima liter yang dijual dalam jerigen-jerigen.
Siti juga mengharapkan pemerintah jangan terburu-buru melaksanakan rencana penarikan minyak tanah di bulan Juni sebelum memperhatikan solusi-solusi yang tepat dan berkualitas untuk masyarakat, terutama yang berstatus ekonomi menengah ke bawah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang