Lahir Prematur, Sulit Punya Anak?

Kompas.com - 26/03/2008, 15:35 WIB

LAHIR secara prematur ternyata dapat menimbulkan problem kesehatan serius yang akan terus terbawa hingga dewasa.  Bahkan kelainan akibat lahir prematur ini juga akan mempengaruhi kesuburan saat dewasa, demikian hasil sebuah penelitian yang dipublikasikan Selasa (26/3).  
 
Sejak lama, para ahli kesehatan telah mengetahui bahwa bayi prematur cenderung sulit tumbuh dan bertahan hidup lebih lama ketimbang mereka yang dilahirkan normal setelah rata-rata kehamilan 40 minggu.

Menurut riset yang dimuat Journal of the American Medical Association edisi Rabu (26/3), problem kesehatan bayi prematur ternyata tidak akan berakhir di masa kanak-kanak.  Masalah ini akan terbawa hingga dewasa dan menyebabkan mereka cenderung sulit lulus sekolah atau pun memilki keturunan.

Wanita yang dilahirkan prematur berada pada risiko tinggi melahirkan secara prematur atau bahkan bayinya meninggal saat kelahiran. Dan kalaupun selamat, bayi-bayi mereka  berisiko tinggi mengalami kematian di tahun pertama. Semakin prematur bayi lahir, semakin tinggi risiko mengalami masalah-masalah tersebut.

Kesimpulan tersebut merupakan hasil riset di Norwegia yang melibatkan sekitar 1,6 juta partisipan yang lahir antara 1967 hingga 1988. Partisipan ini diikuti perkembangannya hingga tahun 2002, termasuk di antaranya prestasi di sekolah serta kemampuan reproduksi. 

Angka kelahiran prematur dalam penelitian ini mencapai 5,2 persen.  Bayi laki-laki  paling prematur yang lahir setelah pekan ke 22 hingga 27 masa kehamilan tercatat 5,3 kali rata-rata meninggal antara usia 1-6 tahun dan 7 kali berisiko meninggal pada usia 7-13 tahun. Bayi laki-laki yang lahir antara  28 - 32 minggu, risiko kematian mereka  2,5 kali rata-rata di awal masa kanak-kanak (5-6 hingga pubertas) dan  2,3 kali rata-rata di akhir masa kanak-kanak.

Pada bayi perempuan yang paling prematur, risikonya 9,7 kali mengalami kematian antara 1- 6 tahun, namun tidak ada peningkatan risiko kematian pada usia 7-13 tahun. Bayi perempuan yang lahir antara  28 hingga 32 minggu juga tidak mengalami kenaikan risiko yang signifikan  akan kematian.

Peneliti menyimpulkan pula,  bayi laki-laki prematur memiliki kecenderungan 76 persen sulit memiliki keturunan, di mana hanya ada sekitar satu dari tujuh partisipan yang memiliki anak. Perempuan yang lahir prematur kecenderungaannya  67 persen sulit memiliki anak  dan hanya ada satu di antara empat yang memiliki anak.   

¨Riset ini mengingatkan lagi  kita bahwa prematuritas adalah masalah kesehatan yang penting yang akan berdampak seumur hidup,¨ ungkap David Adamkin, juru bicara American Academy of Pediatrics, yang tidak terlibat langsung dalam riset ini.

Dalam sebuah editorial yang melengkapi riset ini, peneliti Melissa Adams dan Wanda Barfierd mengatakan bahwa para dokter seharusnya bisa mengidentifikasi lebih baik dan mengendalikan kondisi kronis jika mereka mengetahui seorang pasien terlahir prematur.

Adamkin, direktur pengobatan bayi di Fakultas Kedokteran Universitas Louisville mengatakan riset ini menekankan akan pentingnya mengurangi kasus kelahiran prematur.  Di AS, rata-rata kelahiran prematur  mencapai 12,7 persen, atau naik hingga seperlima sejak 1990.

Para peneliti memilih Norwegia sebagai tempat penelitian karena di negara ini tersedia informasi kesehatan sangat lengkap, baik para pasien maupun anggota keluarga mereka.

Alasan akan timbulnya masalah kesehatan yang menimpa orang yang lahir prematur masih belum jelas. Misalnya, para dokter belum  bisa memastikan mengapa orang yang lahir secara prematur cenderung sulit memperoleh anak.  Namun peneliti memperkirakan bahwa masalah kesehatan membuat mereka sulit menikah.      

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau