Perut Buncit Bikin Pikun?

Kompas.com - 27/03/2008, 23:49 WIB

ANDA yang masih kurang peduli dengan perut yang membuncit, hati-hatilah! Perut buncit tak hanya bikin jantungan dan stroke juga kencing manis, tetapi juga memunculkan penyakit Alzheimer, demensia (pikun). Demikian sebuah penelitian terbaru diungkap.

Menurut para peneliti, ini bukan soal berat, tetapi lebih pada lemak yang menumpuk di perut bagian dalam. Meski begitu, demensia juga bisa menimpa mereka yang langsing. "Sekarang kita bisa menambahkan bahwa kegemukan juga berpotensi menimbulkan demensia," jelas Rachel Whitmer yang melaporkan penelitiannya dalam Jurnal Neurologi.

Penelitian ini melibatkan sekitar 6.583 pria dan wanita usia antara 40 hingga 45 saat mereka melakukan cek kesehatan antara tahun 1964 dan 1973. Sebagai bagian dari tes, perut mereka pun diukur dengan menggunakan jangka lengkung untuk menentukan jarak antara perut bagian belakang dan permukaan. Dalam penelitian ini, jarak sekitar 10 inci dianggap risiko tinggi.

Para peneliti ini kemudian mencek rekam medis para partisipan ini untuk melihat perkembangan Alzheimer atau penyakit demensia lain yang mungkin muncul 36 tahun ke depan. Pada saat itu, para partisipan telah berusia 73 atau 78. Ada sekitar 1.049 yang berpotensi untuk itu.

Dibanding dengan mereka yang dalam penelitian ini memiliki berat normal dan ukuran perut kecil :

- Partisipan dengan berat badan normal, tetapi perutnya membuncit , 89 persen lebih berisiko menderita demensia (pikun).
- Mereka yang kegemukan, 82 persen lebih berisiko dibanding mereka yang perutnya kecil, tetapi dua kali lebih berisiko jika perutnya membuncit.
- Orang gemuk 81 persen lebih berisiko jika perutnya kecil, tetapi tiga kali lebih berisiko jika membuncit.

Whitmer mengatakan bahwa tidak ada cara persis untuk menerjemahkan ukuran perut yang membuncit menjadi ukuran lingkar pinggang. Namun kebanyakan orang bisa merasakan apakah perutnya membuncit. Dan jika mereka mengalami hal ini, segeralah menghilangkan hal ini. Jelas Whitmer.

Dr. Jose Luchsinger dari Columbia University Medical Center di New York yang meneliti hubungan antara kegemukan dan penyakit Alzheimer tetapi tidak terlibat dalam penelitian ini masih belum yakin apakah lemak dalam perut ini memang dapat memicu demensia.

Tetapi hasil penelitian ini "sangat masuk akal" dan "saya tidak terkejut," jelasnya. Tingginya kadar insulin mungkin bisa menjelaskan hubungannya, jelasnya. Dr. Samuel Gandy, Ketua Dewan Penasihat Medis dan Ilmiah Asosiasi Alzheimer mengatakan, hasil penelitian ini cocok dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan karakteristik orang yang hidup di abad pertengahan cenderung mudah kena demensia di akhir hidupnya.

Dan ini merupakan contoh lain bagaimana karakter terkait dengan risiko sakit jantung yang akhirnya juga berkait dengan demensia, jelasnya.

Source : AP

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau