Tekanan Ekonomi Picu Kekerasan

Kompas.com - 28/03/2008, 03:30 WIB

TEKANAN ekonomi yang kian mengimpit dan ketidakpastian masa depan, menyebabkan sejumlah ibu nekat membunuh anak kandungnya sendiri. Kasus yang sudah beberapa kali terjadi ini perlu dicermati dan ditangani serius agar tidak semakin berkembang di masyarakat.

Demikian pendapat sejumlah akademisi, psikolog, sosiolog, kriminolog, dan penggiat lembaga swadaya masyarakat, Rabu (26/3), menanggapi maraknya kasus kekerasan di rumah tangga, dalam bentuk ibu membunuh anak kandungnya sendiri. Kasus terakhir terjadi di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, yakni dua anak balita, Sabila Putri Khaera (3) dan Fadli Muhamad Nizan (4 bulan), ditemukan tewas di dalam bak kamar mandi, Sabtu malam pekan lalu. Sabila dan Fadli diduga dibenamkan oleh ibu kandung mereka, Ny YIY (25). Dalam keterangannya, Rabu kemarin, Ny YIY yang kondisinya masih labil mengatakan, selama empat tahun menikah dirinya tidak mendapat nafkah ekonomi yang layak.

Sebelumnya, kasus serupa terjadi di Bekasi. Diduga stress Ny Is (35), 14 Maret lalu, membunuh kedua anaknya masing-masing Aldi Rasyid (4 bulan) dan Mutiara Yusuf (2 tahun) dengan cara dibenamkan di bak mandi.

Di Kota Malang, Jawa Timur, Ny JM bunuh diri dan sebelumnya membunuh keempat anak kandungnya sendiri. Meskipun keluarga membantah, tetapi polisi menyimpulkan pembunuhan massal ini terjadi karena beban hidup dan tekanan ekonomi yang menghimpit.

Tekanan ekonomi

Kriminolog Universitas Indonesia Ronny Niti Baskara mengatakan, secara psikiatrik-kriminologik, pada tipe bebeberapa kepribadian tertentu, tekanan ekonomi yang dialami kelas bawah akan menimbulkan rasa frustrasi. Adanya hambatan dan ancaman terhadap pencapaian cita-cita serta harapan masa depan, pada gilirannya menjelma menjadi bentuk perilaku menyimpang atau kejahatan. ”Jadi, meningkatnya kekecewaan hidup seseorang diekspresikan dalam bentuk kejahatan,” ujarnya.

Ketua Persatuan Spesialis Dokter Kejiwaan Indonesia Cabang Malang dr Roekani Hadi Sepoetro SpKJ mengatakan, dalam kasus Ny JM yang membunuh keempat anaknya, hal itu merupakan reaksi dari depresi berat dengan gejala psikotik. Hal itu terlihat dari bagaimana ia membunuh anak-anak kesayangannya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia bunuh diri. Itu dilihat Roekani sebagai upaya menyelamatkan orang-orang yang dikasihinya dari tekanan perasaan dan pikiran yang membebaninya.

“Persoalan ekonomi selalu saja menjadi alasan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan, kalau parah, mereka yang merasa tertekan bisa bunuh diri,” tutur Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Malang Inspektur Dua Jayanti Mandasari Harahap.

Jayanti mengatakan, di Malang setiap bulan selalu muncul kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang rata-rata penyebabnya adalah tekanan ekonomi. Dalam catatan PPA, dari Januari hingga Maret 2008 ini telah ada 35 kasus yang ditangani PPA

Psikolog Universitas Indonesia Yudiana Ratna Sari berpendapat, pembunuhan ibu terhadap anak disebabkan rendahnya pendidikan dan kemampuan ekonomi yang saling berkait satu sama lain. Menurut dia, tingkat pendidikan yang rendah membuat kepribadian orang tidak stabil. ”Orang cenderung berpikir pendek dan emosional. Mudah goyah, dan emosional, ketika merealisasikan rencana-rencananya yang sulit diwujudkan,” ujarnya.

Rendahnya tingkat pendidikan juga memengaruhi kemampuan seseorang memutar roda ekonominya. ”Orang dengan basis pendidikan dan ketrampilan rendah, tidak akan mampu melihat peluang atau alternatif memutar roda ekonominya, apalagi berpikir untuk membuat lapangan kerja. Keadaan menjadi kian buruk di tengah sempitnya lapangan kerja dan tingginya tingkat pengangguran,” lanjut Ratna.

Kaji mendalam

Sosiolog dari Universitas Indonesia Paulus Wirutomo mempunyai pendapat berbeda. Menurut dia, belum dapat dipastikan apakah sejumlah kasus pembunuhan anak oleh ibu merupakan fenomena sosial atau kasus individual.

Untuk dapat dikatakan sebagai fenomena sosial setidaknya terjadi peningkatan kasus dalam batasan waktu tertentu. ”Bisa saja secara jumlah tidak terlalu tinggi, tetapi karena kasusnya sensasional maka memunculkan pemberitaan yang besar. Namun, secara sosiologis itu sebetulnya belum menggejala,” ujarnya.

Ia menyimpulkan, kasus-kasus yang terjadi secara sporadis di sejumlah daerah tersebut secara ilmiah belum dapat dikatakan sebagai gejala sosial yang menunjukkan kondisi tertentu di masyarakat.

Akan tetapi, Paulus menekankan, harus diwaspadai jika pembunuhan itu dilatarbelakangi tekanan ekonomi. ”Kasus-kasus yang terkait dengan kemiskinan biasanya cepat meningkat dan merata,” ujarnya.

Elly Risman, psikolog sekaligus Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, menolak tegas anggapan tekanan ekonomi menjadi penyebab utama seorang ibu tega membunuh anak kandungnya sendiri.

”Ini adalah kasus kehancuran jiwa. Faktor kejiwaan si ibu melatarbelakangi tindakannya. Dengan kondisi yang demikian, si ibu kurang kesiapan untuk menjadi orangtua,” kata Elly Risman, Rabu.

Pemerintah harus waspada

Terjadinya kasus-kasus ibu membunuh anak, menurut Paulus, merupakan suatu peringatan kepada pemerintah bahwa peningkatan kemiskinan sudah pada level sangat membahayakan masyarakat.

Pemerintah perlu segera bertindak memperbaiki ekonomi secara keseluruhan. Pada sisi lain, perlu ada kesetiakawanan sosial sehingga ada tempat bergantung bagi orang-orang yang sedang mengalami kesulitan, baik itu bergantung pada keluarga, tetangga, lembaga sosial maupun pemerintah.

Psikolog Elly Risman berpendapat, agar kasus serupa tidak terulang kembali diharapkan masyarakat waspada. Masyarakat perlu memiliki kepekaan sosial dan saling membantu di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau