Wapres Akui Tak Mudah Jaga Harmonisasi Pengusaha dan Pekerja

Kompas.com - 28/03/2008, 21:53 WIB

JAKARTA, JUMAT - Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menyatakan kegagalan yang sering terjadi dalam menjaga hubungan yang baik antara buruh dan pengusaha selama ini, disebabkan karena masing-masing pihak tidak memiliki sikap dan pandangan yang sama.

Pengusaha bersikap dan berpandangan curiga jika kaum pekerja itu kerap tidak memiliki rasa puas dan akhirnya dikhawatirkan melakukan aksi demo yang membuat kegiatan usaha tak berjalan. Sebaliknya, kelompok pekerja kerap curiga dan bersikap radikal terhadap pengusaha karena tidak adanya rasa kepastian dan jaminan dalam bekerja.

Akibatnya, para pekerja ini menjadi keras dan radikal atas kelangsungan nasibnya sebagai pekerja. Mereka gampang marah dan memrotes apapun kebijakan usahanya. Pemerintah pun adakalanya juga menjadi takut dengan ulah para pengusaha dan pekerja yang hubungannya tidak harmonis tersebut, yang dapat menyebabkan terjadi masalah baru ekonomi yang berlarut-larut. Oleh sebab itu, menurut Wapres Kalla, saat menutup Musyawarah Nasional (Munas) ke-8 Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Jakarta, Jumat (28/3) malam, pentingnya bagi pengusaha dan pekerja terus menjaga hubungan dengan berdialog dan saling percaya agar ada kesamaan sikap dan pandangan.

"Keadaan yang kerap tak harmonis itu sudah pernah dan sering terjadi, sehingga pemeritah berharap agar saling curiga dan ketidakpercayaan itu jangan sampai terjadi lagi. Untuk menghindari kondisi itu terjadi lagi, pengusaha dan pekerja melalui serikat organisasinya harus terus menjaga hubungan dengan rasa saling percaya dan terus saling membina satu sama lain," kata Wapres.

Pekerja, tambah Wapres, jangan selalu berpikir bahwa pengusaha itu selalu akan memeras tenaga pekerja dan lalu pergi saja dengan menutup usahanya. "Begitu juga pengusaha jangan selau curiga bahwa pekerja akan selalu mencari cara untuk melakukan aksi demo yang membuat usahanya tidak berjalan," lanjut Wapres.

Wapres menegaskan, pengusaha tidak hanya sekadar mencari untung dalam berusaha. Akan tetapi, sebenarnya ingin usahanya tumbuh dan berkambang. "Kalau sebelumnya hanya satu pabrik, bisa saja dia ingin dua atau tiga pabrik lagi. Kalau dia menambah pabrik, tentu akan banyak pekerja yang akan diserapnya. Jadi, sebetulnya, pengusaha ingin usahanya itu sustainable," papar Kalla.

Adapun sifat pekerja, kata Wapres, tak hanya mengharapkan gaji atau penghasilannya terus bertambah, akan tetapi terjamin seluruh kehidupan keluarganya dalam jangka panjang. "Karena itu, kuncinya yang harus disadari dalam forum dialog antara pengusaha dan pekerja adalah saling menjaga dan percaya. Memang, tidak mudah menjaga harmonisasi seperti itu. Apalagi di tengah-tengah keterbukaan seperti sekarang. Satu-satunya kunci adalah semangat dialog yang lebih intensif, agar terjadi keterbukaan selamanya," demikian Wapres.

Dikatakan Wapres, jika hubungan yang baik antara pengusaha dan pekerja terus terjaga, produktifitas di Indonesia akan terus meningkat. Akibatnya, pertumbuhan usaha akan terus berkembang, yang ditandai dengan tumbuhnya investasi. Akhirnya, ekonomi Indonesia akan bergerak maju.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau