Laporan Wartawan Kompas Suhartono
JAKARTA, SENIN - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui, pelaksanaan proyek listrik 10.000 MW yang tengah dijalankan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) terasa masih berjalan lambat. Oleh sebab itu, Indonesia masih mengalami defisit listrik.
Hal itu disampaikan Presiden Yudhoyono saat berpidato sebelum membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapinas) Kamar Dagang dan Industri Nasional (Kadin) 2008 di Jakarta Convention Centre (JCC), Senin (31/3) siang.
Dalam acara itu, Presiden Yudhoyono didampingi sejumlah menteri ekonomi dan jajaran pengurus Kadin Pusat di antaranya MS Hidayat dan lainnya.
"Saya merasa masih lambat (proyek listrik) itu," tandas Presiden.
Sebelumnya, Presiden menanyakan apakah pembukaan Rapimnas Kadin itu dihadiri oleh Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro. Namun, ternyata kedua pejabat tersebut sama sekali tidak hadir.
Menurut Presiden, saat ini kapasitas tenaga listrik di Indonesia baru mencapai 25.000 MW. "Kita akan menambah 10.000 MW, akan tetapi itu pun juga masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan di industri dan masyarakat. Oleh sebab itu, banyak Gubernur dan Bupati datang menemuinya dan meminta pasokan listrik ditambah," ujar Presiden.
Dalam catatan Kompas, proyek litrik 10.000 MW sekarang masih dalam tahap awal setelah adanya komitmen pendanaan dari sejumlah perusahaan China dan lokal yang akan ikut membangun proyek yang ditargetkan bertahap selesai pada tahun 2009.
Pada saat yang sama, Presiden Yudhoyono mengeluh karena hingga kini PLN juga masih terus merugi sehingga negara harus ikut menanggungnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang