DENPASAR, SENIN- Sebagian warga Bali mulai dihinggapi kekhawatiran akan terjadinya krisis bahan bakar minyak. Distribusi BBM jenis premium yang belum normal mengakibatkan antrian panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar untuk umum sebulan terakhir. Sementara akibat pengurangan pasokan, harga minyak tanah bersubsidi di tingkat eceran melonjak hingga Rp 4.500 per liter.
Pihak Pertamina Distribusi Bali mengungkapkan adanya gangguan pasokan BBM jenis premium sejak awal Februari lalu. Secara khusus, gangguan cuaca secara fluktuatif telah mengakibatkan kapal-kapal tangker Pertamina pengangkut premium mengalami kesulitan bersandar dan memasok premium. Kondisi ini memuncak ketika Badai Nicholas terjadi di selatan Bali. Depo Pertamina di Manggis, Karangasem, yang berhadapan langsung dengan Selat Lombok terkena imbasnya.
Akibat turunan dari kondisi itu, pasokan premium di sejumlah daerah di Bali tidak lancar. Kesan kelangkaan premium pun tidak dapat dihindarkan. Sejumlah SPBU dalam beberapa kesempatan memasang tanda telah kehabisan stok. Begitu pasokan datang, warga pun langsung antri untuk mendapatkannya. Kondisi itu masih terjadi hingga Senin (31/3) ini, antara lain di kawasan Renon, Sesetan, dan Jl Bypass Ngurah Rai di kawasan Suwung, Denpasar.
Mereka bisa saja mendapatkan premium di tingkat eceran, namun dengan harga Rp 5.000 per liter, itu pun dengan kuantitas yang diragukan, karena hanya dijajakan di pinggir jalan dengan kemasan seadanya.
Konversi minyak tanah
Sementara itu, harga minyak tanah bersubsidi terus merambat naik seiring pengurangan pasokan sebagai akibat langsung dari dijalankannya program konversi minyak tanah ke gas. Kondisi terparah terjadi di Kota Denpasar, sebagai daerah yang paling padat penduduknya sekaligus menjadi pilot project dijalankannya program konversi secara penuh, Agustus mendatang. Di awal tahun, harga minyak tanah bersubsidi di tingkat eceran di Denpasar masih berkisar Rp 2.500-3.000 per liter, namun akhir pekan lalu harganya sudah menembus Rp 4.000-Rp 4.500 per liter.
Putut Andriatno, Wira Penjualan Pertamina Retail Rayon IX Bali mengungkapkan, penarikan minyak tanah bersubsidi dilakukan secara bertahap sesuai dengan pembagian kompor dan tabung elpiji gratis Untuk tahap awal, jumlah yang ditarik per harinya adalah minimal 25 kiloliter dari total kebutuhan di seluruh Bali yang mencapai 500 kiloliter per hari.
Pertamina menargetkan, program konversi minyak tanah ke gas dapat diimplementasikan sepenuhnya pada Bulan September mendatang. Itu berarti, tidak akan ada lagi minyak tanah bersubsidi dijual di pasaran. Minyak tanah non subsidi nantinya akan dijual Rp 8.510 per liter.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang