JAKARTA, SELASA - Keberadaan elpiji sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah, ternyata tak sepenuhnya dapat menjawab permasalahan masyarakat. Buktinya, meskipun Pemerintah menarik subsidi minyak tanah yang mengakibatkan bahan bakar itu dijual dengan harga yang sangat mahal, namun toh masyarakat tetap enggan beralih ke elpiji karena berbagai alasan.
"Enggak bisa diketeng (eceran). Kalo lagi enggak punya uang gimana? Sekarang mau naik Rp8.000 seliter? Rp6.500 seliter aja udah pusing. Udah mahal, barangnya susah lagi. Kalo mau pake gas harus langsung Rp15.000 se-tabung isi 3,5 kilo," kata Titin, seorang pedagang nasi di kawasan Tanah Abang, Selasa (1/4). Akhirnya, tak ada pilihan lain buat Titin selain menaikkan harga barang dagangannya.
Tidak itu saja, pedagang asal Cirebon itu mengaku bingung dengan program konversi minyak tanah ke gas. Menurut dia, selama ini ia belum pernah mendapatkan sosialisasi mengenai program tersebut. Dia mengetahui sekilas tentang program ini dari media massa, ataupun selentingan tetangga. "Bingung! Apalagi katanya nanti harus beli di pom bensin (SPBU-red), dan dibatasi tiga liter ya?" keluhnya.
Lain lagi alasan Tuti. Pedagang nasi di Kampung Bandan itu pun berencana menaikkan harga, tapi dengan alasan yang berbeda. "Habis takut. Saya enggak bisa neng, kalo disuruh pake kompor gas. Salah-salah, meledug," ujarnya.
Akhirnya, daripada ia ketakutan saat menggunakan kompor gas, lebih baik harga jual dagangannya yang dinaikkan. Itu menjadi usaha terakhir yang dapat dilakukan Tuti agar dapat bertahan di Jakarta. Sama seperti Titin, Tuti pun mengeluhkan harga minyak tanah telah menembus harga Rp6.500 per liter, yang sesungguhnya telah menyulitkan pedagang nasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang