Elpiji Nggak Bisa "Diketeng"

Kompas.com - 01/04/2008, 11:36 WIB

JAKARTA, SELASA - Keberadaan elpiji sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah, ternyata tak sepenuhnya dapat menjawab permasalahan masyarakat. Buktinya, meskipun Pemerintah menarik subsidi minyak tanah yang mengakibatkan bahan bakar itu dijual dengan harga yang sangat mahal, namun toh masyarakat tetap enggan beralih ke elpiji karena berbagai alasan.

"Enggak bisa diketeng (eceran). Kalo lagi enggak punya uang gimana? Sekarang mau naik Rp8.000 seliter? Rp6.500 seliter aja udah pusing. Udah mahal, barangnya susah lagi. Kalo mau pake gas harus langsung Rp15.000 se-tabung isi 3,5 kilo," kata Titin, seorang pedagang nasi di kawasan Tanah Abang, Selasa (1/4). Akhirnya, tak ada pilihan lain buat Titin selain menaikkan harga barang dagangannya.

Tidak itu saja, pedagang asal Cirebon itu mengaku bingung dengan program konversi minyak tanah ke gas. Menurut dia, selama ini ia belum pernah mendapatkan sosialisasi mengenai program tersebut. Dia mengetahui sekilas tentang program ini dari media massa, ataupun selentingan tetangga. "Bingung! Apalagi katanya nanti harus beli di pom bensin (SPBU-red), dan dibatasi tiga liter ya?" keluhnya.

Lain lagi alasan Tuti. Pedagang nasi di Kampung Bandan itu pun berencana menaikkan harga, tapi dengan alasan yang berbeda. "Habis takut. Saya enggak bisa neng, kalo disuruh pake kompor gas. Salah-salah, meledug," ujarnya.

Akhirnya, daripada ia ketakutan saat menggunakan kompor gas, lebih baik harga jual dagangannya yang dinaikkan. Itu menjadi usaha terakhir yang dapat dilakukan Tuti agar dapat bertahan di Jakarta. Sama seperti Titin, Tuti pun mengeluhkan harga minyak tanah telah menembus harga Rp6.500 per liter, yang sesungguhnya telah menyulitkan pedagang nasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau