JAKARTA,SELASA - China salah satu negara maju di Asia, menjadi penyeimbang pelambatan ekonomi negara-negara industri saat ini yang diakibatkan gangguan keuangan dia Amerika Serikat. Meskipun mengalami penurunan tingkat ekonomi dari 11,4 persen pada 2007 menjadi 9,4 persen pada 2008, negara Tirai Bambu ini terus mengalami peningkatan investasi domestik dan pertumbuhan konsumsi.
Selain China sebagian besar negara Asia Timur, terus memperlihatkan penguatan tingkat kegiatan ekonomi pada tahun 2007 hingga awal 2008 ini, salah satunya Filipina. Arus masuk barang yang besar ke negara ini, mendukung pertumbuhan konsumsi yang kuat.
Laporan East Asia and Pasific region the World Bank dalam enam bulan terakhir menunjukkan, salah satu alasan berlanjutnya pertumbuhan ekonomi di kawasan ini, karena negara-negara pengekspor di Asia Timur selama ini mendapatkan keuntungan perdagangan di dalam dan di luar wilayah ini, ke pasar-pasar selain Amerika Serikat. Wilayah ini mencatat pertumbuhan wilayah ekspor sampai 17 persen ke pasar-pasar negara berkembang.
"Permintaan domestik saat ini memainkan peran yang lebih besar dalam mendorong pertumbuhan di wilayah Asia Timur," ujar Vikram Nehru Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Asia Pasifik dari Tokyo saat konferensi bersama yang disiarkan langsung pada 7 negara, yakni Vietnam, Singapura, Laos, Kamboja, Filipina, Thailand dan Indonesia, Selasa (1/4).
Vikram menjelaskan Asia Timur juga berhasil mendiversifikasikan pasar ekspornya. Walaupun terjadi penurunan signifikan dalam permintaan dari AS, Asia Timur mampu mengkompensasikannya dengan melakukan ekspor dalam jumlah yang lebih besar ke Eropa dan negara berkembang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang