Dubes Belanda: Tuntutan Hizbut Tahrir Salah Alamat

Kompas.com - 01/04/2008, 12:55 WIB

JAKARTA, SELASA- Duta Besar Belanda Nikolaos Van Dem mengatakan tuntutan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam kasus film "Fitna" salah alamat. Seharusnya, tuntutan itu langsung dialamatkan ke Geert Wilders sendiri atau kepada partainya. Demikian disampaikan juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto usai diterima duta besar Belanda di Kedutaan Besar Belanda, Kuningan, Jakarta, Selasa (1/4).

Menanggapi pernyataan duta besar Belanda itu, Muhammad beserta enam perwakilan Hizbut Tahrir lainnya menegaskan bahwa pemerintah Belanda tidak boleh mengelak dari tanggung jawab yang dibuat warga negaranya itu. "Kami membantah pernyataan duta besar, kami katakan anda tidak bisa mengelak dengan cara seperti ini karena Wilders adalah warga negara anda, dan anda punya otoritas untuk mencegah dan menghukum warga negara yang melakukan penghinaan," ujarnya.

Menurut Muhammad, setelah berdiskusi, duta besar Belanda berjanji akan menyampaikan protes Hizbut Tahrir kepada pemerintah Belanda. Ditanya apakah ia puas dengan hasil ini, Muhammad menjawab, " Tidak puas, kami tetap menuntut Widers dituntut seberat-beratnya dan penghinaan terhadap Islam tidak terjadi lagi," katanya.

Jika Pemerintah tidak menghukum Wilders, kata Muhammad , maka kondisi itu akan menjadi preseden buruk dan bukti bahwa Pemerintah Belanda tidak tegas. " Ketidaktegasan ini dapat membuat penghinaan terhadap Islam bisa terjadi lagi. Maka jangan salahkan jika besok umat Islam akan bertindak sesuai dengan suara hatinya," tegasnya.

Peserta aksi protes film Fitna yang dimulai sekitar pukul 11.00, saat ini sudah membubarkan diri, lalu lintas normal kembali.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau