Kota Atambua Lumpuh

Kompas.com - 01/04/2008, 14:20 WIB

ATAMBUA, SELASA  - Aktivitas masyarakat di kota Atambua, Ibukota Kabupaten Belu, NTT, lumpuh akibat aksi unjuk rasa yang dilakukan ribuan warga Belu eks Provinsi Timor Timur di Gedung DPRD dan Kantor Dinas Sosial Kabupaten Belu, Selasa, sejak pukul 10.00 WIT.

Akibat aksi tersebut, toko-toko di pasar tidak satu pun yang buka, demikian pula aktivitas perkantoran baik swasta maupun pemerintah menjadi terganggu karena pegawainya tidak masuk kantor.
    
Massa yang sebelumnya sempat melakukan aksi bakar ban serta lempar batu di Kantor Dinas Sosial Belu, pada siang hari berangsur-angsur  membubarkan diri dan sebagian lainnya memilih kembali ke Gedung DPRD Belu yang menjadi titik pusat aksi unjuk rasa.
    
Para pengunjukrasa mengatasnamakan "Forum Kemanusiaan WNI Eks Timor Timur Korban Keputusan Politik" di bawah pimpinan Ketua Umum, Carlos de Araujo Brito, dan Sekjen Matheus Guedes.

Dalam tuntutannya, warga Belu eks Timtim itu menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap pemberian bantuan dana reintegrasi bagi korban bencana sosial eks Timtim sebesar Rp4 juta per kepala keluarga (KK). Mereka tidak puas karena bantuan itu hanya diberikan kepada 1.500 KK di Kabupaten Belu, padahal berdasarkan data mereka, warga eks Timtim di Belu berjumlah sekitar 16.400 KK.
    
Di DPRD Belu, massa yang sempat menyandera Wakil Bupati Belu Gregorius Maubili Fernandez dan Wakil Ketua DPRD Belu Ludovicus Taolin, akhirnya melunak dengan memberi kesempatan Wakil Bupati untuk memberi penjelasan secara terbuka kepada massa pengunjuk rasa.
    
Petugas kepolisian juga telah memasang barikade kawat berduri di Gedung DPRD serta menyiagakan kendaraan Water Canon dan mobil pemadam kebakaran.
    
Jumlah petugas pun diperkuat dengan penambahan satu kompi pasukan brimob serta dua pleton pasukan pengendalian massa (Dalmas) dari Polda Kupang.
    
Kapolres Belu AKBP Mulyadi Karni mengatakan, selain mengamankan Gedung DPRD dan Kantor Dinas Sosial, pihaknya juga telah mengamankan titik-titik vital lainnya di Atambua seperti Kantor Bupati Belu, pasar, beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), serta kantor-kantor publik yang lain. (ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau