JAKARTA,SELASA – Samain, 46, seorang penjual bakso terlihat asyik melayani beberapa pembeli di salah satu pos mangkalnya yang berada di pinggiran jalan Margaguna Raya, Kelurahan Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (1/3) sore ini. Sesekali ia melihat kompornya untuk memastikan bahwa minyak tanahnya cukup.
Maklum, mie mentah serta puluhan onggokan daging sapi sebagai bahan utama pembuat bakso jualannya masih banyak yang terpajang di 'etalase' gerobak baksonya yang merupakan salah satu modal utamanya dan tiga anggota keluarga yang lain. “Jangan sampe belum habis semuanya (jualannya), minyaknya sudah keburu habis. Minyak jadi langka, Mas. Agen (minyak tanah) sudah pada tutup. Untung kita langganan,” ujar Samain saat Kompas.com menjumpainya.
Kelangkaan minyak tanah disertai harga minyak tanah yang naik 100 persen sejak tiga minggu terakhir membuat pria asal Wonogiri, Jawa Tengah, ini harus pandai-pandai menghemat minyak tanah. Jatah minyak tanah sekali ambil untuk sehari dari agen minyak tanah yang berada dekat kediamannya menutup kemungkinan buatnya memperoleh tambahan minyak, jika minyaknya habis saat ia masih membutuhkannya. Kehidupan ekonomi yang pas-pasan ditambah lagi mahal serta langkahnya minyak tanah membuat ayah dua putra ini cukup bingung memikirkan kelanjutan usahanya.
Sebenarnya, kegembiraan sempat mnghampiri Samain beserta rekan-rekan seprofesinya beberapa waktu lalu saat menerima pembagian kompor gas gratis dari RW setempat. Setidaknya keberadaan energi alternatif pengganti minyak tanah ini bisa mengurangi biaya produksinya karena penggunaan gas relatif lebih murah ketimbang minyak tanah. “Kalau gas, dalam waktu tiga hari baru habis. Belinya Rp15ribu. Kalau minyak tanah empat liter untuk satu hari. Harganya sampe Rp28ribu,” ujarnya.
Alternatif ini tidak serta merta membuatnya beralih ke kompor gas. Pasalnya, rumah tangganya pun membutuhkan kompor gas untuk keperluan masak-memasak. “Saya dapat satu (kompor gas). Itu buat rumah, buat masak-masak,” ujar Samarin.
Sebagaimana pedagang lain umumnya, Samain memutuskan menaikkan harga jualan baksonya untuk menutupi tingginya biaya produksi. “Sekarang dijual Rp5ribu. Sebelum-sebelumnya cuma Rp2.500 sampe Rp3ribu,” ujarnya.
Solusi itu rupanya tidak bertahan lama. Saat ini Samain cukup cemas memikirkan kelangkaan minyak tanah yang dialaminya saat ini. Agen penjualan minyak yang sering melayaninya bersama para langganan lain mulai membatasi pasokan minyaknya. Padahal minyak sangat dibutuhkan untuk 'menghidupi' usahanya. Kompor gas yang diterimanya cuma satu, dan itu belum cukup.
Karenanya tidak heran, Samain dengan tegas dan meyakinkan berkata bahwa ia akan segera beralih menggunakan kompor gas untuk usahanya jika pemerintah bersedia memberikan kompor gas buatnya, saat ditanya apa yang menjadi harapannya saat ini.
Ini bukan bentuk ketamakan Samarin yang ingin memiliki dua barang dengan fungsi yang sama pada waktu beramaan. Ini dinilainya menjadi jalan keluar untuk terus mempertahankan dan 'menyelamatkan' usahanya. “Kalau saja saya punya dua kompor gas, saya pasti tidak rugi dan takut kurang minyak, ”ujar Samarin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang