Kalau Saja Ada Dua Kompor Gas.....

Kompas.com - 01/04/2008, 23:05 WIB

JAKARTA,SELASA – Samain, 46, seorang penjual bakso terlihat asyik melayani beberapa pembeli di salah satu pos mangkalnya yang berada di pinggiran jalan Margaguna Raya, Kelurahan Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (1/3) sore ini. Sesekali ia melihat kompornya untuk memastikan bahwa minyak tanahnya cukup.

Maklum, mie mentah serta puluhan onggokan daging sapi sebagai bahan utama pembuat bakso jualannya masih banyak yang terpajang di 'etalase' gerobak baksonya yang merupakan salah satu modal utamanya dan tiga anggota keluarga yang lain. “Jangan sampe belum habis semuanya (jualannya), minyaknya sudah keburu habis. Minyak jadi langka, Mas. Agen (minyak tanah) sudah pada tutup. Untung kita langganan,” ujar Samain saat Kompas.com menjumpainya.

Kelangkaan minyak tanah disertai harga minyak tanah yang naik 100 persen sejak tiga minggu terakhir membuat pria asal Wonogiri, Jawa Tengah, ini harus pandai-pandai menghemat minyak tanah. Jatah minyak tanah sekali ambil untuk sehari dari agen minyak tanah yang berada dekat kediamannya menutup kemungkinan buatnya memperoleh tambahan minyak, jika minyaknya habis saat ia masih membutuhkannya. Kehidupan ekonomi yang pas-pasan ditambah lagi mahal serta langkahnya minyak tanah membuat ayah dua putra ini cukup bingung memikirkan kelanjutan usahanya.

Sebenarnya, kegembiraan sempat mnghampiri Samain beserta rekan-rekan seprofesinya beberapa waktu lalu saat menerima pembagian kompor gas gratis dari RW setempat. Setidaknya keberadaan energi alternatif pengganti minyak tanah ini bisa mengurangi biaya produksinya karena penggunaan gas relatif lebih murah ketimbang minyak tanah. “Kalau gas, dalam waktu tiga hari baru habis. Belinya Rp15ribu. Kalau minyak tanah empat liter untuk satu hari. Harganya sampe Rp28ribu,” ujarnya.

Alternatif ini tidak serta merta membuatnya beralih ke kompor gas. Pasalnya, rumah tangganya pun membutuhkan kompor gas untuk keperluan masak-memasak. “Saya dapat satu (kompor gas). Itu buat rumah, buat masak-masak,” ujar Samarin.

Sebagaimana pedagang lain umumnya, Samain memutuskan menaikkan harga jualan baksonya untuk menutupi tingginya biaya produksi. “Sekarang dijual Rp5ribu. Sebelum-sebelumnya cuma Rp2.500 sampe Rp3ribu,” ujarnya.

Solusi itu rupanya tidak bertahan lama. Saat ini Samain cukup cemas memikirkan kelangkaan minyak tanah yang dialaminya saat ini. Agen penjualan minyak yang sering melayaninya bersama para langganan lain mulai membatasi pasokan minyaknya. Padahal minyak sangat dibutuhkan untuk 'menghidupi' usahanya. Kompor gas yang diterimanya cuma satu, dan itu belum cukup.

Karenanya tidak heran, Samain dengan tegas dan meyakinkan berkata bahwa ia akan segera beralih menggunakan kompor gas untuk usahanya jika pemerintah bersedia memberikan kompor gas buatnya, saat ditanya apa yang menjadi harapannya saat ini.

Ini bukan bentuk ketamakan Samarin yang ingin memiliki dua barang dengan fungsi yang sama pada waktu beramaan. Ini dinilainya menjadi jalan keluar untuk terus mempertahankan dan 'menyelamatkan' usahanya. “Kalau saja saya punya dua kompor gas, saya pasti tidak rugi dan takut kurang minyak, ”ujar Samarin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau