Robert Mugabe Siap Mundur

Kompas.com - 02/04/2008, 03:47 WIB

HARARE, RABU - Pemimpin Zimbabwe Robert Mugabe (84) siap untuk meletakkan jabatannya setelah mengakui kekalahannya dalam pemilihan presiden di negaranya. Seorang pejabat senior partai berkuasa  ZANU-PF pimpinan Mugabe menjelaskan presiden Zimbabwe tersebut bersiap untuk mundur dari jabatannya setelah 28 tahun berkuasa meskipun ia masih menantikan kesepakatan dari kepala staf angkatan daratnya Constantine Chiwenga.

"Mugabe siap mundur dari jabatannya karena tidak ingin mempermalukan dirinya dengan mencoba untuk maju ke pemilihan babak kedua," kata sumber ZANU-PF yang tidak ingin menyebut identitasnya. "Hanya satu orang yang masih ingin menghalangi Mugabe melaksanakan niatnya, kepala staf angkatan daratnya," ujarnya.

Sementara tiga diplomat Eropa menjelaskan pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai siap untuk menyampaikan konferensi pers untuk memastikan mundurnya Mugabe. Beberapa diplomat senior di ibukota Harare memastikan kesepakatan telah dicapai agar Mugabe mundur untuk membuka jalan bagi pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai yang memenangkan pemilihan umum.

"Setiap petunjuk mengindikasikan Mugabe akan meninggalkan jabatannya secara sukarela," kata salah satu sumber. Berbagai sumber informasi membeberkan bahwa beberapa anggota senior Pergerakan Perubahan Demokratik pimpinan Tsvangirai dan beberapa ajudannya telah mengikuti perundingan untuk menyusun strategi jalan keluar sejak Senin (31/3) lalu. Perundingan ini diadakan setelah diperoleh kepastian bahwa Mugabe yang berkuasa di bekas wilayah koloni Inggris tersebut sejak kemerdekaan tahun 1980 telah dikalahkan dalam pemilihan presiden tahap pertama yang diadakan secara bersamaaan dengan pemilihan parlemen Zimbabwe akhir pekan lalu.

Partai berkuasa ZANU-PF menjelaskan Tsvangirai telah meraih 48 persen suara, perolehan suara yang belum menjamin kemenangan mutlak bagi pemimpin oposisi tersebut di pemilihan presiden Zimbabwe. Namun, Mugabe tidak ingin mempermalukan dirinya dengan kembali menantang Tsvangirai pada pemilihan presiden babak kedua.

Pemilihan umum tersebut diselenggarakan di saat Zimbabwe dililit oleh tingkat inflasi yang berada di atas 100.000 persen serta meluasnya krisis kebutuhan pokok seperti roti dan minyak goreng. Mugabe yang merupakan pemimpin tertua di Afrika menuduh permasalahan ekonomi ini merupakan kesalahan dari Uni Eropa dan AS yang menjatuhkan sanksi ke Zimbabwe setelah ia dituduh melakukan kecurangan saat terpilih kembali sebagai presiden Zimbabwe pada tahun 2002.   (yahoonews.com)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau