Konversi Tidak Mungkin Bagi Saya...

Kompas.com - 02/04/2008, 07:32 WIB

"Tidak mungkin." Itulah jawaban seorang pedagang cakue asal Cirebon, Galuh, saat Kompas.com bertanya mengenai konversi minyak tanah ke gas yang digalakkan pemerintah saat ini. Apalagi, Selasa (1/4) kemarin merupakan hari terakhir pemerintah memberikan subsidi minyak tanah untuk mendukung program konversi tersebut.

Galuh takut, tabung gas akan meledak jika dia menggunakannya saat berdagang. Maklum saja, sehari-hari Galuh harus berkutat dengan teriknya matahari di jalanan ibu kota Jakarta. Jika tidak, asap tidak akan mengepul dari dapurnya.Setiap hari, Galuh harus berjalan, paling tidak tiga kilometer sehari dari rumahnya di daerah Senen Jakarta. Gerobak kecil berwarna putih didorong mengikuti langkah kakinya. Panasnya suhu di Jakarta seakan menjadi sahabat Galuh dalam mencari nafkah.

"Bagaimana jika saya membawa tabung gas di bawah terik matahari seperti ini. Apalagi sekarang cuaca begini. Takut! Kalau ada apa-apa bagaimana? Jadi, konversi tidak mungkin bagi saya," ujarnya, Selasa (1/4).

Hal inilah yang membulatkan tekatnya untuk tidak beralih ke elpiji. Keadaan, lanjut Galuh, yang membuat dirinya memilih jalan ini. Oleh karena itu, tak ada jalan lain selain menaikkan harga jual cakue dagangannya jika akhirnya dia harus membeli minyak tanah seharga Rp8.000 per liter. Padahal, dalam satu hari, Galuh bisa menghabiskan dua hingga tiga liter minyak tanah. Berarti dia harus menyisihkan pendapatannya Rp16.000-Rp24.000 per hari untuk membeli minyak tanah. Belum lagi harga minyak goreng yang turut melambung. Saat harga minyak tanah mencapai Rp6.500 per liter, dia menjual cakuenya dengan harga Rp500 per buah.

"Lalu saya harus jual berapa lagi? Kan yang beli anak-anak sekolah. Kalau saya naikin, mereka sepertinya enggan beli. Kalau tidak, saya harus memperkecil ukuran cakue," katanya bingung.Hal yang sama juga diungkapkan oleh Rudi Anggoro (24), tukang gorengan di Jalan Salam Jakarta. Dia mengatakan khawatir terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan saat harus menggati kompor minyak tanahnya dengan kompor gas."Lagi pula, itu berarti saya juga harus mengubah ukuran gendongan saya. Kompor gasnya saja sudah segedhe itu kan, enggak cukup kalau ditaruh di sini. Biaya lagi donk. Udah deh, enggak apa-apa. Saya milih antre di pom bensin aja," ungkapnya.

Dia mengaku selama ini belum pernah mendapatkan sosialisasi dari pemerintah. Dia juga mengaku tidak mendapat jatah pembagian kompor gas gratis dari pemerintah. Bapak seorang anak itu berharap pemerintah dapat menjelaskan bagaimana cara dan dampak dari penggunaan kompor gas.(BOB)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau