Polling: Publik Masih Bingung Tentukan Pilihan

Kompas.com - 02/04/2008, 11:08 WIB

DARI pengalaman banyak pilkada, popularitas merupakan faktor yang sangat menentukan seseorang dipilih menjadi kepala daerah. Terkait pemilihan gubernur Sumatera Utara periode 2008-2013, publik mengaku masih mempertimbangkan faktor popularitas dalam memilih pasangan calon yang akan memimpin Sumatera Utara.

Satu bulan menjelang pemilihan gubernur secara langsung pada 16 April 2008, masyarakat Sumatera Utara yang dijajaki pendapatnya oleh Litbang Kompas, 17-18 Maret lalu, menyatakan sudah mengetahui tentang perhelatan besar di provinsi ini. Hanya 9,7 persen responden yang mengaku tidak tahu akan ada pemilihan gubernur secara langsung ini.

Tingkat pengenalan responden terhadap masing-masing calon gubernur Sumut ini pun sudah cukup baik, rata-rata di atas 50 persen. Dari lima calon gubernur Sumut yang sudah ditetapkan KPU Provinsi Sumatera Utara, hasil jajak pendapat yang dilakukan di delapan kota di Sumut ini menempatkan Ali Umri sebagai calon gubernur Sumut yang paling dikenal.

Sebanyak 72,1 persen responden mengaku tahu bahwa sebelum pencalonannya sebagai kandidat gubernur, Ali Umri adalah Wali Kota Binjai. Ali Umri berpasangan dengan Maratua Simanjuntak yang  diusung oleh Partai Golongan Karya, partai yang memenangi pemilu di Sumut tahun 2004.

Pasangan Ali Umri-Maratua Simanjuntak berpeluang menguasai suara konstituen di kantong-kantong yang dimenangkan Golkar. Data Litbang Kompas mencatat, Golkar menguasai 20 kabupaten/kota dari 25 kabupaten/kota di Sumut saat Pemilu 2004. Lima wilayah yang lepas dari genggaman Golkar adalah Kabupaten Karo, Deli Serdang, Nias Selatan, Kota Medan, dan Kota Pematang Siantar.

Dari delapan wilayah jajak pendapat, Ali Umri lebih dikenal oleh responden yang berada di sekitar pusat ibu kota Provinsi Sumut, seperti di Stabat, Binjai, dan Medan. Ia kurang dikenal di wilayah yang jauh dari pusat ibu kota provinsi atau di wilayah Sumut bagian selatan seperti di Sibolga.

Popularitas Ali Umri bersaing ketat dengan Syamsul Arifin, calon yang diusung oleh koalisi 11 partai, di antaranya Partai Persatuan Pembangunan, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Bulan Bintang. Tingkat pengenalan responden terhadap Syamsul Arifin yang menjabat sebagai Bupati Langkat sejak tahun 1999 sebesar 71,3 persen. Selain dikenal oleh responden yang berdomisili di kabupaten yang dipimpinnya, ia juga dikenal banyak oleh responden di Lubuk Pakam dan Binjai.

Bisa dikatakan, Ali Umri dan Syamsul Arifin berbagi popularitas di dua wilayah yang sama, yakni Binjai dan Stabat. Hanya saja, di ibu kota Provinsi Sumut (Medan) yang merupakan kantong PKS, popularitas Ali Umri lebih tinggi. Sebanyak 72,7 persen responden di Medan mengenal Ali Umri, sementara Syamsul Arifin dikenal oleh 70,8 persen responden.

Popularitas tiga calon gubernur Sumut lainnya, yakni RE Siahaan, Tritamtomo, dan Abdul Wahab Dalimunthe, masing-masing adalah 57,4 persen, 57,6 persen, dan 62 persen. RE Siahaan, Wali Kota Pematang Siantar yang diusung oleh PKB bersama  tujuh partai lainnya, lebih dikenal di Pematang Siantar dan Kabanjahe.

Tritamtomo yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dikenal di wilayah yang menjadi basis PDI-P, seperti Lubuk Pakam dan Pematang Siantar. Sementara itu, Abdul Wahab Dalimunthe yang diusung Partai Demokrat, Partai Bintang Reformasi, dan Partai Amanat Nasional lebih banyak dikenal di Lubuk Pakam dan Rantau Prapat.

Untuk memuluskan langkah menjadi orang nomor satu di Sumut, sosok pasangan calon wakil gubernur biasanya turut mendongkrak popularitas pasangannya.
Akan tetapi, popularitas lima calon wagub Sumut masih kalah jauh dibandingkan pasangannya masing-masing.

Banyak responden yang tidak tahu bahwa, misalnya, sosok Gatot Pujo Nugroho, calon wagub Sumut yang berpasangan dengan Syamsul Arifin, adalah seorang pengusaha (wiraswastawan). Begitu juga dengan Suherdi, wiraswastawan, yang akan mendampingi cagub RE Siahaan. Sosok dari kalangan swasta atau yang berlatar belakang di luar jalur birokrat rupanya kurang dikenal dan tidak begitu signifikan mendongkrak popularitas pasangan cagub. 

Dalam memilih pemimpin masa depan, publik Sumut lebih mengutamakan faktor pengalaman dalam memimpin organisasi atau partai politik dan berpendidikan tinggi ketimbang faktor kekayaan atau kekuatan modal semata.

Di sini terlihat bahwa masyarakat Sumut cukup rasional memilih kepala daerahnya untuk menyelesaikan segudang persoalan yang dihadapi daerah ini. Clon wagub Sumut yang paling dikenal adalah Maratua Simanjuntak. Ia adalah Wakil Ketua Partai Golkar Provinsi Sumut periode 1999-2009 (dua periode) dan pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Sumut selama empat periode sejak tahun 1987 hingga 2004. Ia, yang dipasangkan dengan  cagub Ali Umri, dikenal oleh hampir separuh responden (44,8 persen).

Meskipun secara individual Ali Umri dan Maratua Simanjuntak paling dikenal dibandingkan cagub dan cawagub lainnya, secara berpasangan kedua orang ini belum tentu merupakan kombinasi yang paling diinginkan dan dianggap layak oleh responden untuk menjadi gubernur Sumut mendatang.

Berpotensi dua putaran

Hasil jajak pendapat mengungkapkan, dari 67,7 persen responden yang sudah yakin terhadap pilihannya, Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho adalah pasangan yang paling diinginkan responden untuk menjadi gubernur Sumut periode 2008-2013. Pasangan ini dipilih oleh 27,2 persen responden dan bersaing ketat dengan Ali Umri-Maratua Simanjuntak yang dipilih oleh 25,1 persen responden. Namun demikian, Tritamtomo-Benny pasaribu juga berpotensi mendulang dukungan yang cukup banyak, yakni 22,8 persen. Pilihan responden terhadap pasangan lainnya seperti RE Siahaan-Suherdi  sebanyak 14 persen dan Abdul Wahab Dalimunthe-Raden Muhammad Syafii (10,8 persen).

Dengan komposisi tiga besar yang tidak terpaut jauh ini, diperkirakan persaingan akan berjalan ketat dan bahkan berpotensi masuk ke dalam babak dua putaran. Jumlah kandidat yang banyak (lima pasang) juga mempersulit kandidat meraih suara mayoritas.

Strategi kampanye dapat menjadi tumpuan untuk menarik simpati massa mengambang yang berdasarkan jajak pendapat diperkirakan jumlahnya saat ini berada di kisaran 32,3 persen.  (Litbang Kompas/Gianie)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau