JAKARTA, RABU - Hasil penelitian BPOM terhadap 96 merek susu formula yang diduga tercemar bakteri Enterobacter sakazakii, juga menunjukkan merek-merek tersebut bebas dari bakteri-bakteri lain yang bersifat patogen. Penelitian yang menghabiskan dana Rp 1,5juta per satu merek susu ini di antaranya mencakup uji mikroba, uji bakteri dan jamur, uji kandungan logam berat, uji protein uji zat warna serta zat pengawet dan pemanis.
Kepala BPOM Husniah Rubiana mengatakan bahwa dalam penelitian yang dilakukan sejak 26 Februari ini, juga diteliti apakah merk-merk tersebut bebas dari bakteri-bakteri lain seperti Salmonella, Shigella, dan Coliform. "Tidak semuanya patogen sebenarnya. Hasilnya negatif. Ini semua umumnya bakteri-bakteri yang menyebabkan penyakit saluran cerna," ujarnya usai Konpres di Jakarta, Rabu (2/4).
Husniah menjelaskan bahwa sebenarnya Salmonella-lah yang paling berbahaya karena menyebabkan penyakit tipus. Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Sukman, menegaskan bahwa kasus-kasus bayi yang sakit atas dugaan susu beracun tidak benar.
"Diare yang dilaporkan pada saat ini di Indonesia, tidak pernah dilaporkan sebabnya adalah Enterobacter sakazakii. Berikut juga yang sakit radang selaput otak. Di dunia, dalam 40 tahun hanya ada 42 kasus," tegasnya. (LIN)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang