96 Merek Susu yang Diteliti Juga Bebas Bakteri Lain

Kompas.com - 02/04/2008, 15:36 WIB

JAKARTA, RABU - Hasil penelitian BPOM terhadap 96 merek susu formula yang diduga tercemar bakteri Enterobacter sakazakii, juga menunjukkan merek-merek tersebut bebas dari bakteri-bakteri lain yang bersifat patogen. Penelitian yang menghabiskan dana Rp 1,5juta per satu merek susu ini di antaranya mencakup uji mikroba, uji bakteri dan jamur, uji kandungan logam berat, uji protein uji zat warna serta zat pengawet dan pemanis.

Kepala BPOM Husniah Rubiana mengatakan bahwa dalam penelitian yang dilakukan sejak 26 Februari ini, juga diteliti apakah merk-merk tersebut bebas dari bakteri-bakteri lain seperti Salmonella, Shigella, dan Coliform. "Tidak semuanya patogen sebenarnya. Hasilnya negatif. Ini semua umumnya bakteri-bakteri yang menyebabkan penyakit saluran cerna," ujarnya usai Konpres di Jakarta, Rabu (2/4).

Husniah menjelaskan bahwa sebenarnya Salmonella-lah yang paling berbahaya karena menyebabkan penyakit tipus. Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Sukman, menegaskan bahwa kasus-kasus bayi yang sakit atas dugaan susu beracun tidak benar.

"Diare yang dilaporkan pada saat ini di Indonesia, tidak pernah dilaporkan sebabnya adalah Enterobacter sakazakii. Berikut juga yang sakit radang selaput otak. Di dunia, dalam 40 tahun hanya ada 42 kasus," tegasnya. (LIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau