Duet Golkar: Ibarat Rem dan Gas

Kompas.com - 02/04/2008, 19:06 WIB

BANYAK kalangan mengharapkan Maratua Simanjuntak dapat memainkan peran menjadi rem alias penyeimbang bagi kiprah Ali Umri nantinya. Oleh karena itulah, Maratua dipasangkan sebagai calon wakil gubernur.

Berpasangan dengan Ali Umri bukan merupakan hal baru bagi Maratua Simanjuntak. Apalagi, keduanya  kader Partai Golkar. ”Sejak tahun 2004, Pak Umri Ketua Golkar (Dewan Pimpinan Daerah Sumatera Utara) dan saya wakilnya. Begitu juga sekarang, dia mencalonkan diri sebagai gubernur, saya wakilnya,” papar Maratua.

Pengalaman selama empat tahun terakhir itu merupakan modal bagi Maratua untuk menjadi wakil gubernur. Laki-laki yang selalu tampil dengan jenggot putih ini mengaku sudah lama memainkan peran sebagai rem bagi kekuasaan. ”Selama ini saya selalu melakukan tugas untuk menjadi rem bagi pemegang kekuasaan, terutama karena saya seorang dai. Bedanya, sebagai dai saya hanya bisa ngomong lewat mimbar saja,” ucap Maratua yang 18 tahun lebih tua dari Ali Umri.

Begitu pula ketika Maratua menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sejak 1987, juga menjadi  bekal untuk menyampaikan segala sesuatu secara lebih lugas. ”Sebagai anggota DPRD, saya bisa lebih langsung menyampaikan masalah yang terjadi. Kalau nanti sebagai wakil gubernur tentu akan lebih cepat lagi bisa memberikan masukan kepada pemegang kekuasaan,” ujarnya.

Satu perasaan

Dari kacamata Maratua, ada satu kesamaan perasaan yang dimiliki Umri dengan dirinya. ”Kami sama-sama tidak bisa melihat orang miskin dan menganggur,” ucap Maratua yang aktif di Badan Amil Zakat (Bazis) selama 15 tahun. ”Manusia terbaik adalah manusia yang mampu membantu orang lain,” tambahnya.

Karena itulah, dalam menyusun program dan visi-misi keduanya merancang program pemberantasan  kemiskinan. Rekam jejak Maratua sebagai guru dan dosen juga membuat warna pendidikan menjadi salah satu bagian dari rencana yang akan dilakukan pasangan ini.

H Enteng S, Ketua Umum Lembaga Pemenangan Umri, melihat Maratua sebagai tokoh agama mempunyai peran sebagai pengingat jika ada sesuatu yang menyimpang dalam duet kepemimpinan pasangan ini.

”Pak Maratua itu tokoh ulama. Dengan peran itu, kalau ada yang menyimpang tentu bisa mengingatkan. Ini tepat menurut saya,” kata Enteng.

Enteng mengenal Maratua sebagai tokoh yang hidup sederhana, dengan kemampuan finansial yang biasa-biasa saja. Kendati sebagai ulama terkenal, dia percaya Maratua tidak memandang perbedaan agama sebagai sebuah permasalahan.

”Pak Maratua diharapkan bisa memainkan peran untuk mempersatukan perbedaan suku, agama, dan etnis untuk mencapai tujuan. Saya yakin tidak  ada diskriminasi,” papar Enteng. (ART)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau