Ali Umri, Orang Muda dari Partai Beringin

Kompas.com - 02/04/2008, 19:23 WIB

Ali Umri! Kandidat gubernur Sumatera Utara nomor urut satu itu sangat lancar menguraikan pandangan tentang persoalan di provinsi yang majemuk. Setiap persoalan selalu ada jawabnya.

Malam menunjukkan pukul 22.30 ketika Ali Umri berbincang dengan Kompas, Jumat (28/3). Di rumahnya di Jalan Karya, Kota Medan, Umri bertutur tentang kebutuhan masyarakat akan jalan yang mulus serta masalah mengenai pengangguran, kesehatan, hingga pariwisata.

Kemampuan menjelaskan masalah berikut solusinya itu tidak lepas dari kebiasaannya turun ke masyarakat. Persentuhan langsung dengan masyarakat itulah yang membuatnya mendapatkan masukan tentang kondisi di lapangan.

Tahun 2006, Ali Umri yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Wilayah Partai Golkar Sumatera Utara (Sumut) mengunjungi seluruh 28 kabupaten/kota di Sumut. ”Saya sudah keliling, masuk ke pelosok bahkan sampai ke Pulau Nias. Ketika itu, Golkar sedang mengadakan konsolidasi di semua daerah,” tutur pria yang pada 9 April nanti genap berusia 42 tahun itu.

Hasil turun ke masyarakat tidak hanya membuahkan pengetahuan tentang permasalahan di masyarakat. Survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada Maret 2008 menyebutkan bahwa popularitas Ali Umri berada pada peringkat pertama dibandingkan dengan sembilan calon gubernur dan wakil gubernur yang bertarung dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumut 2008 ini.

Satu hal lain yang menjadi modal Umri sebagai gubernur adalah pengalamannya memimpin Kota Binjai selama hampir delapan tahun. Hingga saat ini, Umri masih menjabat sebagai Wali Kota Binjai.

”Rencana saya jika  menjadi gubernur, apa yang saya sampaikan ini merupakan pengalaman menjabat sebagai Wali Kota Binjai selama dua periode. Apa yang saya katakan itu sudah pernah saya kerjakan,” kata Umri, penuh percaya diri.

Membangun jalan

Wali Kota Binjai yang gemar mengendarai sepeda motor ini juga  melihat pentingnya pembangunan infrastruktur jalan. ”Di Binjai, pada tahun pertama saya memprioritaskan membangun jalan. Tujuh tahun kemudian, saya tidak bangun jalan lagi, tetapi dana pendidikan saya naikkan sampai 23 persen di luar gaji guru,” kata pria kelahiran Binjai itu.

Kebutuhan untuk membangun jalan, menurut Umri, juga disuarakan masyarakat ketika dia berkunjung ke daerah-daerah. Sejumlah masyarakat berharap Umri memperbaiki jalan kampung yang rusak. ”Logikanya, kalau ada sekolah bagus tapi jalan rusak, siapa yang akan pergi ke sekolah itu,” ucap Umri.

Metode pembangunan jalan yang diterapkan di Binjai akan dilakukannya pula jika ia dipercaya sebagai gubernur Sumut. Umri percaya, kebijakan yang sudah diterapkan di Binjai bisa diadopsi begitu saja untuk Sumut.

”Alokasi dana untuk pembangunan infrastruktur pada tahun pertama bisa mencapai 70 persen dari total anggaran. Sisanya, dibagi-bagi untuk kebutuhan lain, seperti pendidikan, kesehatan, dan peningkatan ekonomi rakyat. Tahun berikutnya, alokasi untuk pembangunan jalan bisa ditekan sampai 50 persen dan berikutnya 20 persen saja,” papar Umri yang juga gemar bermain jet ski dan lihai memainkan tuts kibor itu.

Biasa berbisnis

Kendati berasal dari keluarga berada, anak pasangan H Syaiful Bahri dan almarhumah Hj Siti Malia ini sudah dibiasakan berbisnis sejak di bangku sekolah dasar. ”Saya merintis usaha dari bawah, merasakan memulai sesuatu dari nol. Sewaktu sekolah dasar, saya membuka Kedai Sampah di Binjai. Warung itu bukan menampung sampah, hanya nama kedai saja yang sampah. Saya membeli hasil bumi dari masyarakat sekitar,” kata Umri, yang pernah menjabat sebagai Ketua Gapensi Langkat (1998-2002) dan Wakil Ketua Kadin Langkat (1997-2002).

Semangat berbisnis Umri terus berkembang pada tahun-tahun berikutnya. Pada 1984, ketika dia berusia 18 tahun, ayahnya memercayakan Umri sebagai direktur Firma Nusantara, perusahaan konstruksi yang bergerak dalam  pembangunan pengairan.
Pengalaman sebagai pengusaha sejak muda juga mendorong Umri meningkatkan jumlah pengusaha muda di Sumut. Program bertitel campuss entrepreneur dirancang sebagai salah satu program ”jualan” Ali Umri meraih kursi gubernur.

”Lulusan perguruan tinggi yang sudah mempunyai usaha atau yang berencana membuka usaha akan dibantu pembiayaannya oleh pemerintah lewat dana alokasi umum,” kata Umri menjelaskan.

Usaha yang dibangun itu disesuaikan dengan bakat masing-masing. Proposal proyek yang diajukan akan dinilai terlebih dahulu  kelayakan serta prospeknya ke depan, sebelum diberi kucuran dana. Rencananya, setiap proposal yang disetujui akan diberi dana Rp 100 juta. Dana ini merupakan bantuan lunak yang tetap harus dikembalikan oleh penerimanya.

Chaidir, tim sukses pasangan Ali Umri-Maratua Simanjuntak, menyebutkan, 10.000 pengusaha baru ditargetkan tercipta pada tahun pertama kepemimpinan pasangan ini. Dengan begitu, angka pengangguran dan kemiskinan akan ditekan.

Umri juga berencana membuka lapangan kerja dengan berbagai cara, antara lain mengganti tanaman tua di hutan dengan kelapa sawit. ”Nanti, sarjana-sarjana ekonomi atau teknik bisa bekerja di situ,” ucap Umri.

Kerusakan lingkungan

Ketika ditanya tentang dampak kerusakan lingkungan jika perkebunan sawit dibuka secara besar-besaran, Umri membantah adanya efek buruk kebun sawit bagi lingkungan. Kebun sawit justru memberikan oksigen bagi lingkungan.

Inilah sekelumit gambaran tentang Ali Umri. Di tengah gosip yang banyak menerpa dirinya saat ini, dia tetap percaya diri. ”Gosip itu tidak usah ditanggapi. Apa iya saya harus lapor ke polisi tentang gosip-gosip itu? Itu kan prasangka. Kami diam saja. Nanti juga mereka capek sendiri. Kalau ada masyarakat yang menanyakan, tentu akan saya jawab. Lagi pula, mereka lihat kalau saya selalu pergi dengan istri saya,” ucap suami dari Hj Rini Sofyanti itu.

”Kalau kamu percaya gosip itu, ya salah juga,” ucapnya mengakhiri pembicaraan. (Agnes Rita Sulistyawaty)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau