BAGI partai berlambang pohon beringin, Sumatera Utara menjadi satu-satunya provinsi yang mengajukan calon gubernur dan wakil gubernur dari kader sendiri. Ali Umri berpasangan dengan Maratua Simanjuntak.
Kedua calon ini adalah kader Partai Golkar. Bahkan, Umri dan Maratua sudah berpasangan di internal partai sejak tahun 2004. Ali Umri menjadi Ketua Umum Partai Golkar Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sumatera Utara hingga tahun 2009. Sementara, Maratua Simanjuntak menjadi Wakil Ketua Partai Golkar DPD Sumut untuk periode waktu yang sama dengan Umri, 2004-2009.
”Pak Maratua itu ulama. Dia juga dekat dengan tokoh agama lain. Saya sangat berharap beliau bisa membina kerukunan umat beragama di Sumatera Utara,” kata Umri tentang pasangannya.
Sejumlah kalangan di dalam Partai Golkar berpendapat, duet tokoh muda dengan tokoh tua sebagai calon gubernur dan wakil gubernur merupakan suatu kombinasi yang pas.
H Enteng S, Ketua Umum Lembaga Pemenangan Umri (LPU), mengatakan, kesegaran pemikiran akan diberikan Umri. Sementara, Maratua menjadi rem jika kebijakan yang diambil pasangannya terlampau jauh.”Keduanya bisa menjadi perpaduan yang pas untuk memimpin Sumatera Utara. Kalau yang satu terlalu berlebihan, yang lain bisa mengerem,” ujar Enteng.
Di sisi lain, sesepuh Golkar berharap ada pembaruan dalam pembangunan Sumut ketika tongkat kepemimpinan dipegang orang muda.
Perkembangan zaman
”Ada pemikiran yang berbeda antara generasi tua dan muda karena lingkungan sekitar juga sudah berbeda. Saya sendiri kadang-kadang berbeda pendapat dengan orang muda. Karena itu, orang-orang muda ini diharapkan lebih bisa mengambil kebijakan yang sesuai dengan perkembangan zaman,” kata Burhanuddin Napitupulu, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, sekaligus Koordinator Wilayah Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam.
Politisi Golkar, Chaidir Ritonga, melihat ada dua aspek penting majunya Umri bersama Maratua, yakni simbol reformasi yang memungkinkan orang muda dan pengusaha di luar militer maju sebagai kepala daerah. Selain itu, adanya kemampuan pimpinan muda untuk sering mendatangi masyarakat.
”Majunya Ali Umri ini adalah momentum perbaikan pencitraan Golkar di masyarakat karena sebelumnya Golkar didominasi tokoh dari militer,” kata Chaidir. Orientasi untuk lebih mendekatkan calon dengan masyarakat disikapi partai ini dengan mencoret pilihan koalisi dengan partai lain. ”Ada partai yang meminta sampai Rp 30 miliar jika Golkar berkoalisi dengan mereka. Kami menolak tawaran itu. Kami memilih memakai dana sebanyak itu untuk biaya turun ke masyarakat. Orientasi kami bukan dilayani, tetapi melayani masyarakat dengan sering turun ke lapangan,” papar Chaidir.
Secara internal partai, Chaidir mengakui kalau pilihan DPD Partai Golkar Sumut itu tidak populer karena orientasi partai adalah menjaring kemenangan sebesar-besarnya dengan koalisi partai. Chaidir menilai pasangan ini akan mampu membuka jalan menuju pemilihan anggota legislatif dan presiden mendatang.
Pasangan ini bertekad meningkatkan kemajuan Sumut, terutama di bidang ekonomi dan infrastruktur jalan. Dukungan juga diberikan masyarakat di daerah basis Golkar. (ART)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang