Perpaduan Pas antara Tua dan Muda untuk Sumut

Kompas.com - 02/04/2008, 19:29 WIB

BAGI partai berlambang pohon beringin, Sumatera Utara menjadi satu-satunya provinsi yang mengajukan calon gubernur dan wakil gubernur dari kader sendiri. Ali Umri berpasangan dengan Maratua Simanjuntak.

Kedua calon ini adalah kader Partai Golkar. Bahkan, Umri dan Maratua sudah berpasangan di internal partai sejak tahun 2004. Ali Umri menjadi Ketua Umum Partai Golkar Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sumatera Utara hingga tahun 2009. Sementara, Maratua Simanjuntak menjadi Wakil Ketua Partai Golkar DPD Sumut untuk periode waktu yang sama dengan Umri, 2004-2009.

”Pak Maratua itu ulama. Dia juga dekat dengan tokoh agama lain. Saya sangat berharap beliau bisa membina kerukunan umat beragama di Sumatera Utara,” kata Umri tentang pasangannya.

Sejumlah kalangan di dalam Partai Golkar berpendapat, duet tokoh muda dengan tokoh tua sebagai calon gubernur dan wakil gubernur merupakan suatu kombinasi yang pas.

H Enteng S, Ketua Umum Lembaga Pemenangan Umri (LPU), mengatakan, kesegaran pemikiran akan diberikan  Umri. Sementara, Maratua menjadi rem jika kebijakan yang diambil pasangannya  terlampau jauh.”Keduanya bisa menjadi perpaduan yang pas untuk memimpin Sumatera Utara. Kalau yang satu terlalu berlebihan, yang lain bisa mengerem,” ujar Enteng.

Di sisi lain, sesepuh  Golkar berharap ada pembaruan dalam pembangunan Sumut ketika tongkat kepemimpinan dipegang orang muda.

Perkembangan zaman

”Ada pemikiran yang berbeda antara generasi tua dan muda karena lingkungan sekitar juga sudah berbeda. Saya sendiri kadang-kadang berbeda pendapat dengan orang muda. Karena itu, orang-orang muda ini diharapkan lebih bisa mengambil kebijakan yang sesuai dengan perkembangan zaman,” kata  Burhanuddin Napitupulu, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, sekaligus Koordinator Wilayah Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam.

Politisi Golkar, Chaidir Ritonga, melihat ada dua aspek penting majunya  Umri bersama Maratua, yakni simbol reformasi yang memungkinkan orang muda dan pengusaha di luar militer maju sebagai kepala daerah.  Selain itu, adanya kemampuan pimpinan muda untuk sering mendatangi masyarakat.

”Majunya Ali Umri ini adalah momentum perbaikan pencitraan Golkar di masyarakat karena sebelumnya Golkar didominasi tokoh dari militer,” kata Chaidir. Orientasi untuk lebih mendekatkan calon dengan masyarakat disikapi  partai ini dengan mencoret pilihan koalisi dengan partai lain. ”Ada partai yang meminta sampai Rp 30 miliar jika Golkar berkoalisi dengan mereka. Kami menolak tawaran itu. Kami memilih memakai dana sebanyak itu untuk biaya turun ke masyarakat. Orientasi kami bukan dilayani, tetapi melayani masyarakat dengan sering turun ke lapangan,” papar Chaidir.

Secara internal partai, Chaidir mengakui kalau pilihan DPD Partai Golkar Sumut itu tidak populer karena orientasi partai adalah menjaring kemenangan sebesar-besarnya dengan koalisi partai. Chaidir menilai pasangan ini akan mampu membuka jalan menuju pemilihan anggota legislatif dan presiden mendatang.

Pasangan ini bertekad meningkatkan kemajuan Sumut, terutama di bidang ekonomi dan infrastruktur jalan. Dukungan juga diberikan  masyarakat di daerah basis Golkar. (ART)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau