ADA tiga pendekatan yang akan dilakukan Benny Pasaribu (50), calon wakil gubernur Sumut periode 2008-2013 yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, untuk meningkatkan perekonomian di provinsi itu, yakni melalui agrobisnis, agroindustri, dan agrowisata. Tiga hal itu yang dilihat Benny sebagai kekuatan Sumatera Utara.
Obsesi Benny yang memiliki nama lengkap Sahala Benny Pasaribu adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat, khususnya kaum tani dan nelayan. Pengalamannya delapan tahun di Amerika Serikat membuat ia memahami bagaimana suatu negara bisa maju.
”Saya mempelajari, tidak ada negara maju di dunia ini yang meninggalkan petani dan nelayan. Nah, kalau Indonesia mau makmur, sejahtera, itu harus petani, buruh, nelayannya sejahtera. Untuk itu jangan tinggalkan petani, nelayan, dan buruh. Saya datang untuk membangun itu,” tutur Benny, dalam wawancara selepas konferensi pers visi-misi pasangan, akhir pekan lalu.
Ia gusar ketika dikatakan tidak mengenal Sumatera Utara (Sumut) karena sudah lama meninggalkan daerah ini. ”Untuk apa besar di Sumatera kalau hanya di Medan Denai, di Siantar, di Langkat, atau Binjai. Saya lahir dan sekolah hingga SMA di sini. Saya selepas lulus IPB (Institut Pertanian Bogor) di sini. Bekerja di KUD-KUD (koperasi unit desa) dan membuat gudang di sini. Di Nias demikian, di berbagai daerah demikian pula,” kata Benny.
”Menurut saya itu misunderstanding saja. Logikanya, kami ini (pasangan Tritamtomo-Benny) sudah memahami berbagai masalah nasional, ekonomi, dan pertahanan. Kami berpengalaman nasional dan internasional,” tutur ekonom lulusan Amerika itu.
Jaringan nasional dan internasional yang ia miliki diyakini mampu membantunya membangun Sumut. Soal kelangkaan pupuk misalnya. ”Kalau langka, saya telepon sekarang,” tutur Benny.
Orang yang ia telepon adalah Direksi PT Pusri. Benny yakin bisa membereskan masalah itu karena ia yang dulu mengangkat para direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat menjadi Deputi Menteri BUMN. ”Pergaulan saja. Anak Medan itu hidup karena pergaulan, gak usah berteori macam-macam. Tidak usah rapat apa-apa, pergaulan saja,” kata dia lagi.
Benny lahir di Medan, 21 Desember 1958. Sejak kecil ia dikenal pandai. Setelah menyelesaikan studi di SD Negeri Limbong, SLTP Limbong, SMU Bintang Timur, Balige, ia meneruskan studi ke IPB. Benny selalu mendapat beasiswa saat meneruskan studi hingga memperoleh gelar doktor.
Saat menempuh pendidikan S-1 di IPB, ia mendapat beasiswa dari Yayasan Supersemar dan Ford Foundation, Amerika Serikat. Ia kemudian mendapat beasiswa lagi dari USAID untuk menyelesaikan S-2 bidang Ekonomi Pembangunan di Williams College Massachusetts, Amerika Serikat. Studi doktornya di Ottawa University, Kanada, jurusan Industrial Organization and International Trade dibiayai program PhD CIDA-Kanada. Ia menyelesaikan studi doktor pada usia 37 tahun.
Kemampuan analisisnya dalam perekonomian tidak diragukan. Selain didukung studi yang mendalam, ia juga punya banyak pengalaman dalam pekerjaan yang berhubungan dengan perekonomian, terutama di tingkat nasional.
Dimulai dari Sumut
Semua itu dimulai ketika Benny muda lulus sarjana. Setelah menyelesaikan studi di Bogor, ia pulang ke Sumut dan menjadi general manager Puskud Sumut.
Pekerjaan terakhirnya, setelah menjadi Deputi Menteri/Kepala Badan Penanaman Modal Kementerian Negara BUMN dan Ketua Komisi IX DPR adalah anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI.
Saat menjadi deputi Menteri Negara BUMN, tugasnya menyeleksi orang-orang yang akan menempati posisi di BUMN, termasuk mengganti mereka. Benny menjadi orang kepercayaan Menteri Negara BUMN waktu itu, Laksamana Sukardi.
Benny menikah dengan Tumiur Suriaty Simatupang dan mempunyai seorang anak bernama Pangeran Vernon (22). Pria berbadan tegap itu menyukai olahraga karate. Ia menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Karate-Do Tako Indonesia.
Ia juga senang menulis, khususnya bidang ekonomi, di beberapa media. ”Saya ini pekerja maniak,” tutur Benny. Ia mengaku harus menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas. Setiap kali pertemuan publik, pasangan Benny, Tritamtomo, akan bicara kerangka besar dan Benny aplikasinya.
Potensi besar
Menurut Benny, Sumut punya potensi besar, tetapi masih punya masalah besar, yakni pengangguran dan kemiskinan. Angka pengangguran menempati urutan ketiga di Indonesia dan kemiskinan ke-4 terbesar.
Untuk mengatasinya, salah satu caranya adalah dengan memberi kemudahan kepada petani. Sektor agrobisnis misalnya, ia akan memberi kemudahan penyediaan lahan, pupuk, hingga pengorganisasian, terutama masyarakat petani dan nelayan serta pengolahan dan pemasaran. Ia juga akan menggerakkan koperasi untuk sektor pertanian, industri, buruh/karyawan.
Benny pun berjanji akan meningkatkan kesejahteraan guru dan membangun sekolah terbaik. Ia yakin kualitas manusia di Sumut mumpuni sebab banyak guru dan dosen terbaik di negeri ini berasal dari Sumut.
Lalu, Benny ingin membangun layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik sehingga orang Sumut tak perlu ke Malaysia untuk berobat atau bersekolah. ”Tahun 1970-an, orang Malaysia bangga bisa bersekolah di Sumut. Sekarang, lebih bangga kita lulusan dari Malaysia, sampai berobat pun ke Malaysia. Ini masalah yang belum bisa disediakan di Sumut,” katanya.
Berdasarkan perhitungannya, warga Sumut mengeluarkan dana hampir Rp 1 triliun per tahun untuk berobat dan pendidikan di Malaysia dan Singapura. ”Kalau dana itu kita tahan di Sumut, bisa menyejahterakan rakyat dengan lebih baik, bisa membangun rumah sakit dan sekolah unggulan terbaik,” katanya.
Ia telah mempelajari bagaimana sistem rumah sakit di Penang, Malaysia, yang menggantungkan peralatan medis dari Eropa. ”Kita bisa membeli peralatan itu dan dalam 2-3 tahun investasi bisa kembali,” ucap Benny.
Soal usaha kecil menengah (UKM), ia memprioritaskan penertiban pungutan tak resmi yang diajukan banyak oknum. Bersama pasangannya, Tritamtomo, yang mantan Panglima Komando Daerah (Kodam) I Bukit Barisan, Benny yang sudah puluhan tahun bekerja di UKM yakin bisa membereskan masalah itu.
Soal investasi, menurut Benny, akan datang jika Sumut ramah kepada investor. Infrastruktur dan terutama listrik sangat dibutuhkan. Menurut Benny, walaupun pemerintah pusat setengah perhatian terhadap Sumut, bersama Tritamtomo dan pengalaman mereka berdua serta dukungan DPR, ia yakin masalah di Sumatera bisa dituntaskan. (Aufrida Wismi)
Sumber: Halaman Pilkada Kompas Sumabut (3/2) Halaman 2
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang