JAKARTA, KAMIS - Gagasan pengadaan bus transjakarta yang dilontarkan Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta Busway Drajat Adhyaksa sebagai respon keluhan para perempuan yang dilecehkan dalam bus tersebut rupanya tidak berjalan mulus.
Selain harus menunggu keputusan dari Gubernur DKI Jakarta soal pengoperasian bus tersebut, suara-suara miring lainnya juga sering terdengar. Salah satunya yakni, gagasan tersebut dianggap sebagai bentuk pemisahan masyarakat berdasarkan jenis kelamin yang bersifat ideologi.
Menanggapi hal tersebut Kepala BLU Transjakarta Busway Drajad Adhyaksa mengatakan bahwa pemisahan ini semata-mata merupakan solusi atas begitu banyak pengaduan soal pelecehan seksual yang dialami kaum perempuan di bus transjakarta.
"Kita mendengar keluhan wanita dan ditanggapi. Banyak pelecehan yang terjadi. Belum lagi yang nggak lapor," ujar Drajad saat ditemui di kantor Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) pada Kamis (3/4).
Dengan adanya bus transjakarta khusus perempuan bukan berarti nanti busnya dibedakan untuk perempuan dengan laki-laki. Dalam hal ini, jelas Drajad, perempuan diberi pilihan untuk menggunakan bus transjakarta campuran atau yang khusus perempuan.
Hal yang sama juga ditegaskan pakar transportasi Darmaningtyas. Dasar pemikiran adanya bus transjakarta itu tidak bersifat ideologis. Artinya, bagi perempuan yang merasa lebih aman dan nyaman naik bus transjakarta khusus perempuan, dipersilahkan. Tapi mereka yang ingin campur dengan penumpang laki-laki juga tidak dilarang.
"Jadi pasangan suami istri atau keluarga yang bepergian bersama dan naik busway tidak perlu khawatir akan dipisahkan. Mereka tetap diberi kesempatan memilih," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang